IHSG Bangkit usai Tertekan, Pengamat Ingatkan Konsistensi Pemerintah dan Tahan Saat Dikritik

Jumat 23 Okt 2026, 17:25 WIB
Ilustrasi IHSG. (Sumber: Pinterest)
Ilustrasi IHSG. (Sumber: Pinterest)

POSKOTA.CO.ID – Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam tiga hari terakhir menjadi angin segar bagi perekonomian nasional.

Pengamat politik sekaligus akademisi Universitas Paramadina, Hendri Satrio (Hensa), menilai tren positif bursa pasar modal ini merupakan sinyal awal membaiknya kepercayaan publik dan investor terhadap pemerintah.

IHSG ditutup menguat 1,12 persen ke level 5.387,90 pada Kamis, 22 Oktober 2026. Kenaikan ini sekaligus mengakhiri tekanan indeks yang sempat terjadi pada pekan sebelumnya.

Menurut Hensa, pergerakan IHSG tidak sekadar dinamika angka di bursa saham, melainkan cerminan persepsi publik terhadap stabilitas kepemimpinan nasional.

Baca Juga: Saham BUMN Rebound, IHSG Bergerak Ke Zona Hijau Jelang Akhir Pekan

"Ini kabar baik, tanda kepercayaan ke pemerintah mulai kembali. Investor yang tadinya ragu apakah pemerintah bisa dipegang atau tidak, mulai melihat jawabannya ke arah yang positif. Tapi ini baru permulaan, tetap harus kita pantau," ujar Pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI tersebut.

Hensa mengapresiasi sikap tegas Presiden Prabowo Subianto dan jajaran pemerintah dalam merespons tekanan dari pihak luar, seperti MSCI. Langkah tersebut dinilai memberikan pesan politik yang kuat bahwa pemerintah tidak panik dalam menghadapi situasi kritis.

Meski demikian, ia memberi catatan agar ketegasan tersebut diterapkan secara konsisten sejak awal, bukan hanya muncul saat situasi mendesak.

"Tekanan dari luar bisa dihadapi dengan kepala tegak, namun koordinasi di dalam kabinet sendiri masih sering jalan masing-masing. Kalau tegasnya konsisten dari awal, situasi deg-degan seperti kemarin mungkin tidak perlu terjadi," kata Hensa.

Baca Juga: IHSG Menguat ke 5.387, Fundamental Saham BUMN jadi Motor Kebangkitan

Hensa juga mengingatkan bahwa ancaman terbesar terhadap pemulihan kepercayaan investor justru kerap datang dari internal pemerintahan, terutama melalui pernyataan pejabat publik yang tidak terukur.


Berita Terkait


News Update