Kopi Pagi: Pancasila Bukan Hafalan, tapi Pengalaman

Kamis 01 Okt 2026, 07:00 WIB
Ilustrasi Kopi Pagi. (Sumber: Poskota)
Ilustrasi Kopi Pagi. (Sumber: Poskota)

POSKOTA.CO.ID - “Perlu bijak dalam mengemas dan menyampaikan informasi di media sosial. Menahan diri untuk tidak terpancing emosi serta memberi kesempatan kepada pihak lain untuk berargumentasi. Itulah bagian dari pengamalan nilai- nilai Pancasila dalam membangun komunikasi, mencegah disharmoni.” -Harmoko-

Melalui kolom ini sering disampaikan bahwa Pancasila bukan sebatas hafalan, bukan menjadi bacaan wajib bagian dari seremonial belaka. Bukan pula terhenti pada pemahaman dan pemaknaan nilai – nilai Pancasila, tetapi yang terpenting adalah pengamalan.

Menjadi tantangan aktual bagi kita semua sepanjang masa untuk senantiasa menghidupkan Pancasila dalam jiwa setiap kita, agar tidak hanya menjadi teks mati di atas kertas atau lembaran menempel di dinding.

Kita mewarisi Pancasila dengan nilai-nilainya sebagai ideologi yang hidup, bukanlah semata mata slogan melainkan petunjuk lengkap bagaimana kehidupan sehari hari harus kita dilakukan di negeri ini.

Baca Juga: Kopi Pagi: Rawat Kepercayaan Publik

Setidaknya terdapat 36 butir pengamalan Pancasila yang bisa menjadi panduan kita dalam berucap dan berbuat agar selaras dengan nilai – nilai luhur falsafah bangsa kita.

Dari mulai bersikap saling menghargai- menghormati, tenggang rasa, tidak semena- mena, tidak memaksakan kehendak, berani membela kebenaran dan keadilan, rela berkorban,mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadinya, mengutamakan musyawarah mufakat hingga bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Pancasila adalah dasar dan ideologi negara. Hasil kesepakatan dari para pendiri Republik Indonesia dalam berbangsa dan bernegara.

Terukir dalam sejarah sebuah prestasi  yang membuktikan betapa besarnya arti Pancasila bagi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara.

Baca Juga: Kopi Pagi: Petani Pahlawan Negeri

Mengenal sejarah itu penting terutama bagi generasi muda. Dalam literatur  disebutkan bahwa generasi baru suatu bangsa tidak akan memiliki rasa percaya diri dan kebanggaan atas bangsanya, tanpa mengenal sesungguhnya sejarah kehidupannya.

Kita berkeinginan dalam setiap memperingati hari bersejarah seperti Lahirnya Pancasila, 1 Juni dan Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober, bukan semata pada seremonialnya.

Tapi akan lebih bermakna, jika menjadi momen introspeksi diri sejauh mana kita telah mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari – hari, bukan hanya baru sebatas  simbol belaka.

Karena itu, peringatan Hari Kesaktian Pancasila, sudah seyogyanya dijadikan kesempatan merefleksikan  pemaknaan nilai-nilai dan kesaktian Pancasila itu sendiri.

Baca Juga: Kopi Pagi: Tiada Henti Mereformasi Birokrasi

Sudahkah kita konsisten mengamalkannya atau malah sebaliknya, masih pada tahap tak sesuai antara kata dengan perbuatan. Jangan sampai berteriak peduli sosial, tetapi sama sekali tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya.

Jangan sampai hanya lantang mengedepankan toleransi, tetapi praktiknya menutup diri, memusuhi orang lain yang beda paham dan aliran.

Jangan sampai berdiri paling depan untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan, tetapi secara diam – diam berlaku tidak adil terhadap sesama, terlebih kepada mereka yang tak berdaya, tiada henti pula menyembunyikan kepalsuan.

Jika membangun kebersamaan, kolaborasi dan koalisi sebagai esensi dari politik gotong royong yang bersendikan Pancasila, bukan lantas dimanipulasi menghasilkan kolusi, korupsi dan nepotisme. Membangun oligarki untuk melanggengkan kekuasaan pada sekelompok elite tertentu, yang jauh dari kepentingan rakyat.

Baca Juga: Kopi Pagi: Menelisik Rangkap Jabatan Politik

Di tengah era globalisasi, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, dunia yang serba instan seolah dalam genggaman tangan, kian penting Pancasila menjadi filter dari pengaruh negatif budaya asing dan produk globalisasi.

Kini penting menjiwai Pancasila itu tidak boleh setengah hati. Karena biar bagaimanapun, kelima silanya terangkum menjadi satu kesatuan nilai. Makna Pancasila itu sendiri telah mengandung spirit ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Inilah jiwa Indonesia itu, jiwa yang akan menggerakkan kita untuk terus berjuang menggapi cita –cita negeri, terwujudnya masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur.

Lantas bagaimana mengimplementasikan perilaku yang selaras dengan nilai- nilai Pancasila? Jawabnya bisa beragam, bisa ditempuh melalui berbagai upaya, di antaranya keteladanan pejabat negeri ini.

Peran pemuka agama/tokoh masyarakat dan pemuka adat. Tak kalah pentingnya melalui jalur pendidikan (kurikulum) sekolah.

Baca Juga: Kopi Pagi: Kebenaran dan Keadilan

Keteladanan pejabat perlu diviralkan, lebih – lebih di era sekarang ini.

Di tengah terpaan pengaruh media sosial di era digital ini, seharusnya kita kian mampu menguatkan diri dan terus membentengi dengan kandungan nilai – nilai Pancasila agar tidak terjerembab dalam pusaran ketidakpastian informasi yang acap mendatangkan ketersinggungan dan kekisruhan.

Perlu bijak dalam mengemas dan menyampaikan informasi di media sosial. Menahan diri untuk tidak terpancing emosi serta memberi kesempatan kepada pihak lain untuk berargumentasi.

Itulah bagian dari pengamalan nilai- nilai Pancasila dalam membangun komunikasi, mencegah disharmoni, seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.

Kita paham betul sejumlah negara seperti Yugoslavia, Irak, Libya, dan Suriah yang mengalami perpecahan akibat rapuhnya ideologi pemersatu. Kondisi tersebut, menjadi pelajaran penting bagi Indonesia sebagai negara besar dengan hampir 300 juta penduduk dan ribuan suku bangsa.

Mari kita jiwai Pancasila dengan sepenuh hati, bukan setengah hati, terlebih dalam pengamalannya.


Berita Terkait


News Update