Kopi Pagi: Pancasila Bukan Hafalan, tapi Pengalaman

Kamis 01 Okt 2026, 07:00 WIB
Ilustrasi Kopi Pagi. (Sumber: Poskota)
Ilustrasi Kopi Pagi. (Sumber: Poskota)

Kita berkeinginan dalam setiap memperingati hari bersejarah seperti Lahirnya Pancasila, 1 Juni dan Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober, bukan semata pada seremonialnya.

Tapi akan lebih bermakna, jika menjadi momen introspeksi diri sejauh mana kita telah mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari – hari, bukan hanya baru sebatas  simbol belaka.

Karena itu, peringatan Hari Kesaktian Pancasila, sudah seyogyanya dijadikan kesempatan merefleksikan  pemaknaan nilai-nilai dan kesaktian Pancasila itu sendiri.

Baca Juga: Kopi Pagi: Tiada Henti Mereformasi Birokrasi

Sudahkah kita konsisten mengamalkannya atau malah sebaliknya, masih pada tahap tak sesuai antara kata dengan perbuatan. Jangan sampai berteriak peduli sosial, tetapi sama sekali tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya.

Jangan sampai hanya lantang mengedepankan toleransi, tetapi praktiknya menutup diri, memusuhi orang lain yang beda paham dan aliran.

Jangan sampai berdiri paling depan untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan, tetapi secara diam – diam berlaku tidak adil terhadap sesama, terlebih kepada mereka yang tak berdaya, tiada henti pula menyembunyikan kepalsuan.

Jika membangun kebersamaan, kolaborasi dan koalisi sebagai esensi dari politik gotong royong yang bersendikan Pancasila, bukan lantas dimanipulasi menghasilkan kolusi, korupsi dan nepotisme. Membangun oligarki untuk melanggengkan kekuasaan pada sekelompok elite tertentu, yang jauh dari kepentingan rakyat.

Baca Juga: Kopi Pagi: Menelisik Rangkap Jabatan Politik

Di tengah era globalisasi, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, dunia yang serba instan seolah dalam genggaman tangan, kian penting Pancasila menjadi filter dari pengaruh negatif budaya asing dan produk globalisasi.

Kini penting menjiwai Pancasila itu tidak boleh setengah hati. Karena biar bagaimanapun, kelima silanya terangkum menjadi satu kesatuan nilai. Makna Pancasila itu sendiri telah mengandung spirit ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Inilah jiwa Indonesia itu, jiwa yang akan menggerakkan kita untuk terus berjuang menggapi cita –cita negeri, terwujudnya masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur.

Lantas bagaimana mengimplementasikan perilaku yang selaras dengan nilai- nilai Pancasila? Jawabnya bisa beragam, bisa ditempuh melalui berbagai upaya, di antaranya keteladanan pejabat negeri ini.


Berita Terkait


News Update