KM Virgo Transport 8 Terbalik di Laut Jawa, Ini Riwayat Kapal Bekas Jepang yang Baru Beroperasi di Indonesia

Senin 14 Sep 2026, 20:31 WIB
KM Virgo Transport 8, kapal rute Surabaya-Banjarmasin yang terbalik di Laut Jawa pada 13 September 2026. Riwayat kapal bekas Jepang menjadi perhatian setelah insiden. (Sumber: X/@tasawufcenter)
KM Virgo Transport 8, kapal rute Surabaya-Banjarmasin yang terbalik di Laut Jawa pada 13 September 2026. Riwayat kapal bekas Jepang menjadi perhatian setelah insiden. (Sumber: X/@tasawufcenter)

Laporan awal menyebut kapal hilang kontak sekitar pukul 02.00 WITA pada Minggu, 13 September 2026. Cuaca buruk dan gelombang tinggi dilaporkan menjadi kondisi yang menyertai kecelakaan tersebut. Namun, penyebab pasti kapal terbalik masih dalam penyelidikan.

Basarnas kemudian mengerahkan tim SAR gabungan untuk mencari dan mengevakuasi para korban.

Baca Juga: Pencarian 5 Jurnalis dan 3 ABK di Selat Sunda Diperpanjang usai 7 Hari Nihil

Fakta Penting Insiden KM Virgo Transport 8

Berikut sejumlah fakta yang perlu diketahui:

  • Total orang di kapal: 243 orang, termasuk penumpang dan awak kapal.
  • Lokasi kecelakaan: Perairan Masalembo, Laut Jawa.
  • Perkembangan korban: 109 orang selamat, enam meninggal dunia, dan 128 masih dicari berdasarkan laporan Basarnas per 14 September 2026 pukul 15.30 WITA.
  • Nama kapal sebelumnya: Ferry Kurushima.
  • Tahun pembuatan: 1987 di Jepang.
  • Jenis kapal: Ro-ro atau roll-on/roll-off.
  • Rute di Indonesia: Surabaya-Banjarmasin pulang-pergi.

Riwayat KM Virgo Transport 8 menunjukkan bahwa kapal yang baru beroperasi di Indonesia tidak selalu berarti kapal baru dibuat. Kapal ini telah memiliki pengalaman pelayaran sejak 1987 di Jepang sebelum berpindah ke Indonesia.

Meski usia kapal menjadi perhatian publik, belum ada keterangan resmi yang menyatakan bahwa usia kapal merupakan penyebab kecelakaan. Faktor cuaca, kondisi teknis, dan aspek keselamatan lainnya masih perlu diperiksa oleh pihak berwenang.

Untuk saat ini, pencarian korban menjadi prioritas. Publik diharapkan menunggu informasi resmi dari Basarnas dan instansi terkait agar perkembangan jumlah korban maupun penyebab insiden tidak disimpulkan secara terburu-buru.


Berita Terkait


News Update