Pakar Tanggapi Usul CFD Jakarta 2 Hari Seminggu Sebut Upaya Kurangi Polusi Perlu Diuji

Jumat 11 Sep 2026, 20:42 WIB
Ilustrasi suasana CFD di Jakarta. (Sumber: POSKOTA | Foto: M Tegar Jihad)
Ilustrasi suasana CFD di Jakarta. (Sumber: POSKOTA | Foto: M Tegar Jihad)

KEBAYORAN BARU, POSKOTA.CO.ID - Usulan pelaksanaan Car Free Day (CFD) dua kali dalam sepekan dinilai dapat memberikan manfaat bagi kesehatan masyarakat sekaligus mendukung upaya mengurangi paparan polusi udara dari kendaraan bermotor.

Usulan tersebut disampaikan oleh Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat yang mendorong agar CFD digelar pada Sabtu dan Minggu. 

Guru Besar Bidang Agroklimatologi Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho mengatakan, pelaksanaan CFD dua kali dalam sepekan merupakan usulan yang baik karena dapat dilihat dari aspek kesehatan dan lingkungan.

Kebijakan tersebut diharapkan dapat mendorong pola hidup sehat sekaligus menjadi salah satu upaya pengendalian polusi udara di Jakarta.

Baca Juga: Wacana CFD Digelar 2 Kali Sepekan: Warga Usul Sabtu CFN, Ojol Khawatir Pendapatan Harian Turun

"Ya bagus usulannya, kita bisa melihat dari dua sisi, dari sisi kesehatan artinya masyarakat diberi wadah untuk olahraga, dan dari sisi lingkungan yang bebas polusi udara dari kendaraan bermotor," ujar Bayu saat dihubungi Pos Kota, Jumat, 11 September 2026.

Meski demikian, kata Bayu, efektivitas CFD dalam menekan polusi udara perlu dibuktikan melalui pengukuran dan analisis.

Menurutnya, pelaksanaan CFD tidak cukup hanya dilakukan secara rutin tanpa mengetahui seberapa besar dampaknya terhadap pengurangan emisi.

"Terkait efektivitas, ini yang perlu diukur dan dianalisis lebih lanjut, artinya tidak hanya menyelenggarakan CFD saja, tetapi juga diukur seberapa besar dampaknya terkait pengurangan emisi," kata Bayu.

Baca Juga: Pramono Kaji Usulan CFD Dua Kali Sepekan untuk Tekan Polusi Jakarta

Bayu menilai pengukuran tersebut juga perlu mencakup wilayah di sekitar lokasi CFD. Sebab, pembatasan kendaraan di satu ruas jalan berpotensi membuat kendaraan bermotor menumpuk atau berpindah ke ruas jalan lain di sekitar lokasi, sehingga dampaknya terhadap kualitas udara dapat dievaluasi secara menyeluruh dan objektif.

"Walaupun dengan CFD ini mengurangi polusi, dalam hal ini dari kendaraan bermotor, tetapi juga perlu kita ukur efektivitasnya, termasuk mungkin juga dari jalan-jalan sekitarnya, takutnya dengan adanya CFD tetapi aktivitas atau kendaraan bermotor malah menumpuk di sekitar lokasi CFD," jelas Bayu.

Kemudian untuk memastikan kebijakan tersebut benar-benar berdampak terhadap kualitas udara, diperlukan perbandingan kondisi sebelum dan setelah CFD diterapkan.

Pengukuran juga dapat membandingkan pelaksanaan CFD satu kali dengan dua kali dalam sepekan.

Baca Juga: Siapa Oknum Polisi Diduga Kuntit Mantan Pacar Saat CFD di Rasuna Said? Viral di Media Sosial

"Tentunya harus diukur efektivitasnya, kita bandingkan before dan after-nya, artinya kalau tidak dilakukan CFD dan dilakukan seperti apa perbedaannya, termasuk kalau dilakukan satu kali dan dua kali dibandingkan," tutur Bayu.

Selain itu, kata Bayu, sebaran aktivitas dan mobilitas kendaraan bermotor di sekitar lokasi CFD perlu menjadi bagian dari evaluasi.

Jangan sampai pelaksanaan CFD hanya memindahkan kepadatan kendaraan dan aktivitas bermotor ke kawasan lain, sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara optimal.

"Perlu juga seperti yang saya sampaikan di atas, kita juga perlu lihat sebaran aktivitas atau mobilitas kendaraan bermotor di sekitar lokasi-lokasi CFD, jangan-jangan hanya berupa pemindahan saja, artinya aktivitas tetap banyak termasuk yang menggunakan kendaraan bermotor tetapi hanya menghindari lokasi CFD," beber Bayu.

Menurut Bayu, salah satu tujuan utama pelaksanaan CFD memang dapat diarahkan untuk menekan polusi udara yang bersumber dari kendaraan bermotor.

Namun, penerapan CFD dua kali sepekan sebaiknya diawali dengan uji coba serta pengukuran dampak agar kebijakan tersebut memiliki dasar evaluasi yang jelas.

"Ya pastinya salah satu tujuannya menekan polusi udara dari kendaraan bermotor, tetapi juga tadi yang saya sampaikan perlu uji coba dulu ada perbandingan before dan after-nya, sehingga ada justifikasi kalau kita melaksanakan CFD dua kali ini memang benar-benar efektif menekan polusi udara di Jakarta," terang Bayu.

Sebagai langkah awal, kata Bayu, uji coba tersebut dapat dilakukan secepatnya dengan tetap disertai pengukuran dampak terhadap kualitas udara dan mobilitas kendaraan di sekitar kawasan CFD. Evaluasi tersebut penting untuk memastikan kebijakan yang diterapkan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.


Berita Terkait


News Update