"Walaupun dengan CFD ini mengurangi polusi, dalam hal ini dari kendaraan bermotor, tetapi juga perlu kita ukur efektivitasnya, termasuk mungkin juga dari jalan-jalan sekitarnya, takutnya dengan adanya CFD tetapi aktivitas atau kendaraan bermotor malah menumpuk di sekitar lokasi CFD," jelas Bayu.
Kemudian untuk memastikan kebijakan tersebut benar-benar berdampak terhadap kualitas udara, diperlukan perbandingan kondisi sebelum dan setelah CFD diterapkan.
Pengukuran juga dapat membandingkan pelaksanaan CFD satu kali dengan dua kali dalam sepekan.
Baca Juga: Siapa Oknum Polisi Diduga Kuntit Mantan Pacar Saat CFD di Rasuna Said? Viral di Media Sosial
"Tentunya harus diukur efektivitasnya, kita bandingkan before dan after-nya, artinya kalau tidak dilakukan CFD dan dilakukan seperti apa perbedaannya, termasuk kalau dilakukan satu kali dan dua kali dibandingkan," tutur Bayu.
Selain itu, kata Bayu, sebaran aktivitas dan mobilitas kendaraan bermotor di sekitar lokasi CFD perlu menjadi bagian dari evaluasi.
Jangan sampai pelaksanaan CFD hanya memindahkan kepadatan kendaraan dan aktivitas bermotor ke kawasan lain, sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara optimal.
"Perlu juga seperti yang saya sampaikan di atas, kita juga perlu lihat sebaran aktivitas atau mobilitas kendaraan bermotor di sekitar lokasi-lokasi CFD, jangan-jangan hanya berupa pemindahan saja, artinya aktivitas tetap banyak termasuk yang menggunakan kendaraan bermotor tetapi hanya menghindari lokasi CFD," beber Bayu.
Menurut Bayu, salah satu tujuan utama pelaksanaan CFD memang dapat diarahkan untuk menekan polusi udara yang bersumber dari kendaraan bermotor.
Namun, penerapan CFD dua kali sepekan sebaiknya diawali dengan uji coba serta pengukuran dampak agar kebijakan tersebut memiliki dasar evaluasi yang jelas.
"Ya pastinya salah satu tujuannya menekan polusi udara dari kendaraan bermotor, tetapi juga tadi yang saya sampaikan perlu uji coba dulu ada perbandingan before dan after-nya, sehingga ada justifikasi kalau kita melaksanakan CFD dua kali ini memang benar-benar efektif menekan polusi udara di Jakarta," terang Bayu.
Sebagai langkah awal, kata Bayu, uji coba tersebut dapat dilakukan secepatnya dengan tetap disertai pengukuran dampak terhadap kualitas udara dan mobilitas kendaraan di sekitar kawasan CFD. Evaluasi tersebut penting untuk memastikan kebijakan yang diterapkan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
