Tidak teramatinya visual letusan tidak berarti aktivitas vulkanik tidak terjadi. Pencatatan melalui peralatan seismograf tetap menjadi salah satu sumber informasi penting dalam pemantauan aktivitas gunung api.
Data tersebut kemudian digunakan untuk melihat perkembangan aktivitas vulkanik dan menjadi bagian dari evaluasi kondisi Gunung Anak Krakatau.
2. Erupsi Kedua Pukul 05.34 WIB
Tidak berselang lama, Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada pukul 05.34 WIB.
Erupsi kedua terjadi sekitar 26 menit setelah aktivitas pertama. Seperti erupsi sebelumnya, visual letusan pada kejadian kedua juga tidak teramati.
Berdasarkan hasil pencatatan seismograf, erupsi tersebut memiliki amplitudo maksimum 44 mm. Sementara itu, durasi erupsi kedua tercatat selama 10 detik.
Aktivitas tersebut kemudian menjadi bagian dari rangkaian erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada Selasa pagi.
Pencatatan waktu dan parameter erupsi dilakukan untuk memberikan gambaran mengenai perkembangan aktivitas vulkanik.
3. Erupsi Ketiga Pukul 07.49 WIB
Aktivitas erupsi kembali terjadi pada pukul 07.49 WIB. Peristiwa tersebut tercatat sebagai erupsi ketiga Gunung Anak Krakatau pada Selasa, 8 September 2026.
Kondisi visual letusan juga tidak teramati pada erupsi ketiga. Namun, aktivitas tersebut kembali terekam melalui seismograf.
Berdasarkan rekaman seismograf, erupsi ketiga memiliki amplitudo maksimum 48 mm dengan durasi selama 19 detik.
Dengan adanya erupsi ketiga, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih menunjukkan adanya kejadian letusan berulang sejak pagi hari. Perkembangan tersebut terus menjadi bagian dari pemantauan PVMBG.
4. Erupsi Keempat Pukul 11.34 WIB
Erupsi terbaru Gunung Anak Krakatau terjadi pada pukul 11.34 WIB. Peristiwa ini menjadi erupsi keempat yang tercatat hingga siang hari.
