POSKOTA.CO.ID - Pertanyaan tentang apakah Gunung Gede, Kelud, Salak, Tambora hingga Toba masih aktif kembali muncul ketika aktivitas sejumlah gunung api di Indonesia menjadi perhatian. Kelima nama tersebut sama-sama memiliki sejarah vulkanisme, tetapi kondisi masing-masing pada September 2026 tidak bisa disamakan.
Mengacu pada informasi aktivitas gunung api dan catatan Badan Geologi serta Smithsonian Global Volcanism Program, Gunung Gede, Kelud dan Salak masih termasuk gunung api aktif yang dipantau, sementara Tambora berada pada tingkat aktivitas yang lebih tinggi. Adapun Toba memiliki karakter berbeda karena merupakan sistem kaldera raksasa dengan riwayat erupsi purba.
Gunung Gede masih aktif meski lama tidak meletus
Gunung Gede di Jawa Barat menjadi salah satu contoh bahwa gunung yang sudah puluhan tahun tidak mengalami erupsi bukan berarti otomatis menjadi gunung mati.
Badan Geologi mencatat erupsi terakhir Gede terjadi pada 1957. Saat itu, kolom erupsi dilaporkan mencapai sekitar 3.000 meter di atas Kawah Ratu. Dalam pemantauan sebelumnya, Gede berada pada Level I atau Normal.
Status Normal sendiri bukan berarti tidak ada aktivitas vulkanik. Artinya, berdasarkan pengamatan visual dan instrumental, belum terlihat peningkatan aktivitas yang signifikan.
Karena itu, aktivitas Gede tetap dipantau dan wisatawan perlu mengikuti rekomendasi keselamatan yang dikeluarkan otoritas.
Kelud dan Salak juga belum bisa disebut gunung mati
Gunung Kelud di Jawa Timur mempunyai catatan erupsi yang jauh lebih baru. Smithsonian mencatat erupsi terakhir terjadi pada 13 Februari 2014 dan diklasifikasikan sebagai erupsi dengan VEI 4.
Artinya, jeda lebih dari satu dekade sejak letusan besar tersebut tidak mengubah Kelud menjadi gunung tidak aktif. Badan Geologi juga mencatat Kelud sebagai gunung api strato dengan karakter erupsi yang dapat bersifat eksplosif.
Sementara itu, Gunung Salak di Jawa Barat juga masih memiliki catatan aktivitas vulkanik. Data Badan Geologi menyebut erupsi terakhir terjadi pada 1938 di Kawah Cikaluwung Putri. Kawasan kawah juga diketahui masih memiliki fumarola dan solfatara.
Smithsonian mencatat episode erupsi Salak pada 1938 sebagai erupsi terkonfirmasi dengan VEI 2.
