Kopi Pagi: Mengisi Kemerdekaan Tiada Akhir

Senin 31 Agu 2026, 10:32 WIB
Ilustrasi Kopi Pagi. (Sumber: Poskota)
Ilustrasi Kopi Pagi. (Sumber: Poskota)

Slogan memang penting dalam upaya mengedukasi anak bangsa membangunn negeri. Mengisi kemerdekaan harus terus berjalan dari satu generasi ke generasi berikunya dengan kondisi on the track sesuai cita – cita negeri kita.

Cinta tanah air, bangga terhadap negeri, rasa nasionalisme membangun negeri tiada henti harus terus ditumbuhkembangkan sebagai upaya menopang pembangunan berkelanjutan dan berkesinambungan.

Hanya saja kita menyadari, edukasi bangga terhadap negeri sendiri tidak sebatas slogan dan retorika. Tidak cukup melalui upacara, peringatan, atau seremonial semata seperti halnya melalui momen bulan kemerdekaan.

Baca Juga: Kopi Pagi: Menyelaraskan Hak dan Kewajiban

Yang utama adalah membangun jati diri bangsa cinta negeri melalui rangkaian aktivitas sehari - hari. Ada pembuktian diri "Aku bangga menjadi bangsa Indonesia", seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi: di media ini

Yang paling sederhana mencintai produk sendiri, hasil karya anak bangsa mulai produk pertanian hingga barang industri. Mulai dari bumbu dapur hingga tempat tidur semuanya memakai produk dalam negeri.

Hendaknya mengonsumsi bawang merah, bawang putih, cabai dan buah - buahan hasil petani kita. Bukan komoditas impor dengan alasan lebih kesohor. Bukan pula memakai sepatu dan baju buatan luar negeri dengan alasan lebih bergengsi.

Rasa kebanggaan adalah sikap mulia yang wajib dimiliki oleh setiap anak negeri guna memperkokoh jati diri. Siapa lagi yang akan membanggakan negeri kalau bukan anak bangsa negeri itu sendiri.

Baca Juga: Disamarkan dalam Kemasan Kopi dan Milo, Bareskrim Gagalkan Penyelundupan 3,37 Kg Psikotropika

Hendaknya kita malu, jika menyatakan cinta tanah air, nyatanya selalu bangga menggunakan produk luar negeri.

Lebih ironis lagi tidak ada rasa malu mengambil hak orang lain, dengan korupsi mengambil uang negara – rakyat , sementara kita tahu uang negara tersebut sangat dibutuhkan untuk pembangunan berkelanjutan bagi kesejahteraan rakyat.

Tak sedikit yang acap mengatakan rasa malu tampaknya sudah luntur di negeri kita.Terpapar dalam sejumlah peristiwa pelanggaran etika dan norma dipertontokan di ranah publik.


Berita Terkait


News Update