Dinas Sosial juga belum dapat memastikan waktu pencairan kembali bantuan bagi pasangan lansia tersebut.
Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan data penerima bansos tidak selalu sederhana. Ketika sistem mendeteksi adanya indikator tertentu, penerima bantuan bisa terdampak meski kondisi sebenarnya perlu diperiksa lebih lanjut.
Baca Juga: Dugaan Penipuan Investasi Bitcoin, 2 Warga Bali Lapor Polisi Aset Rp19 Miliar Tak Bisa Diakses
Hal yang Perlu Diketahui dari Kasus Dayat dan Darmi
Bansos dihentikan sejak awal 2026
Sebelumnya Dayat dan Darmi menerima Rp600 ribu setiap tiga bulan.
Data mereka terindikasi aktivitas judi online
Indikasi tersebut menjadi dasar penghentian bantuan, meski keduanya menyangkal keterlibatan.
Keduanya tidak memiliki ponsel pintar
Dayat dan Darmi juga diketahui tidak bisa membaca dan menulis.
Masih tercatat dalam desil 1
Artinya, mereka masih masuk kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah.
Pemdes sudah mengajukan klarifikasi
Pemerintah Desa Kayugeritan membuat surat sanggahan bermaterai kepada Kementerian Sosial untuk meminta pemeriksaan dan penjelasan lebih lanjut.
Nasib Bansos Masih Menunggu Kejelasan
Kasus Dayat dan Darmi kini masih menunggu tindak lanjut dari pemerintah pusat. Bagi pasangan lansia tersebut, kepastian mengenai status bantuan menjadi penting karena bansos selama ini turut menopang kebutuhan hidup mereka.
Persoalan ini juga menjadi pengingat bahwa akurasi data sangat menentukan nasib penerima bantuan. Ketika terjadi ketidaksesuaian antara data dan kondisi di lapangan, mekanisme klarifikasi perlu berjalan agar masyarakat yang memang membutuhkan tidak kehilangan hak bantuannya karena kesalahan atau ketidakakuratan informasi.
