BMKG menjelaskan bahwa musim kemarau bukanlah musim tanpa hujan, melainkan curah hujan di suatu tempat kurang dari 50 mm/dasarian dan terjadi minimal tiga dasarian berturut-turut.
Jadi, suatu wilayah tetap bisa diguyur hujan sewaktu-waktu saat musim kemarau, hanya saja dengan intensitas dan frekuensi yang tidak terlalu tinggi.
Lalu, apa penyebab hujan turun di suatu wilayah saat musim kemarau berlangsung?
Penyebab Turun Hujan di Musim Kemarau
Merangkum dari akun Instagram resmi BMKG, setidaknya ada empat hal yang membuat hujan tetap bisa turun saat musim kemarau di Indonesia.
Baca Juga: Mau Tahu Bakal Hujan atau Panas? Begini Cara Membaca Prakiraan Cuaca BMKG
1. Pengaruh Laut Hangat Indonesia
Sebagai negara kepulauan yang dikelilingi lautan, BMKG menjelaskan bahwa kondisi laut di Indonesia memiliki suhu yang relatif hangat. Kondisi ini memungkinkan proses penguapan tetap berlangsung meskipun angin kering mendominasi saat kemarau.
Uap air dari laut kemudian dapat menjadi sumber kelembapan yang mendukung pertumbuhan awan hujan. Oleh karenanya, hujan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah meski sedang musim kemarau.
2. Gangguan Atmosfer
Hujan yang turun ketika musim kemarau juga bisa terjadi karena pengaruh fenomena atmosfer regional, seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) dan terbentuknya sirkulasi siklonik.
MJO merupakan sebuah fenomena yang terjadi saat kumpulan awan konvektif dari wilayah Samudra Hindia menuju Samudra Pasifik melewati kawasan Indonesia. Saat fenomena ini berlangsung di suatu wilayah, aktivitas pembentukan awan dan curah hujan dapat meningkat, meskipun wilayah tersebut sedang mengalami musim kemarau.
Sementara itu, sirkulasi siklonik adalah kondisi ketika pola angin yang bergerak memutar di sekitar pusat tekanan udara rendah. Pergerakan tersebut dapat menarik massa udara menuju pusat tekanan sehingga mendorong pertumbuhan awan konvektif. Dalam kondisi tertentu, fenomena ini dapat menghasilkan hujan deras disertai angin kencang.
3. Faktor Topografi
Bentang alam Indonesia yang terdiri dari dataran rendah, perbukitan, hingga pegunungan juga berperan terhadap terjadinya hujan. Salah satu proses yang berkaitan dengan kondisi tersebut adalah hujan orografis.
Ketika udara yang membawa banyak uap air bergerak dari laut dan bertemu dengan pegunungan, massa udara tersebut akan terdorong naik. Semakin tinggi udara bergerak, suhunya semakin rendah sehingga uap air mengalami kondensasi dan membentuk awan. Proses inilah yang kemudian dapat menghasilkan hujan, terutama di wilayah lereng pegunungan.
