El Nino Picu Kemarau Ekstrim, BMKG Peringatkan Warga Jakarta Waspada Kebakaran dan Krisis Air Bersih

Rabu 26 Agu 2026, 17:54 WIB
Ilustrasi kekeringan saat musim kemarau. (Sumber: Freepik/@jcomp)
Ilustrasi kekeringan saat musim kemarau. (Sumber: Freepik/@jcomp)

KEBAYORAN BARU, POSKOTA.CO.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi puncak musim kemarau, ditambah dengan adanya fenomena El Nino yang dapat memicu potensi bencana hidrometeorologi.

Kondisi tersebut membuat kondisi curah hujan yang rendah serta berpotensi meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran, termasuk di wilayah DKI Jakarta.

Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani mengatakan, kondisi kering saat ini dipengaruhi oleh fenomena El Nino kategori sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

Berdasarkan analisis dasarian II Agustus 2026, sekitar 79,9 persen wilayah Indonesia atau 559 Zona Musim (ZOM) telah memasuki kondisi kemarau.

Baca Juga: Antisipasi Musim Kemarau, BPBD DKI Waspadai Risiko Kebakaran dan Krisis Air Bersih

“Pengaruh El Nino kategori sangat kuat dan IOD positif masih menjadi faktor utama yang mendukung kondisi kering di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Jawa dan Jakarta,” kata Andri dalam keterangannya, Rabu, 26 Agustus 2026.

Titik Panas dan Ancaman Karhutla

Dampak dari mengeringnya wilayah Indonesia terlihat dengan meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah.

Berdasarkan pantauan satelit Himawari-9 pada 23 Agustus 2026, terdeteksi ratusan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Sumatera, Kalimantan, Papua, dan Maluku, disertai sebaran asap di sejumlah provinsi.

Meski demikian, Andri menyebut kondisi atmosfer tidak sepenuhnya kering karena peluang hujan masih terbuka secara lokal.

Baca Juga: Kenapa Kebakaran Hutan Sering Terjadi saat Musim Kemarau? Ini Faktor Penyebabnya

Hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat bahkan tercatat di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh pada periode 20-23 Agustus 2026.

“Walaupun kondisi kemarau semakin dominan, potensi hujan masih tetap ada secara lokal dan sporadis akibat dinamika atmosfer regional maupun faktor lokal,” kata Andri.

Sementara itu, untuk wilayah Jakarta, kondisi kemarau perlu menjadi perhatian karena Jawa termasuk kawasan yang diprakirakan mengalami curah hujan rendah hingga menengah pada periode Agustus III hingga September II 2026.

Situasi ini dapat membuat kondisi udara lebih kering dan meningkatkan kebutuhan kewaspadaan terhadap kebakaran, terutama di kawasan perkotaan yang memiliki aktivitas padat.

Baca Juga: 46 Desa di Lebak Krisis Air Bersih Imbas Kemarau, 13.500 KK Terdampak

“Prakiraan curah hujan periode Agustus III hingga September II 2026 umumnya berada pada kategori rendah hingga menengah, dengan kategori rendah masih mendominasi sebagian besar wilayah Jawa,” jelas Andri.

Namun, masyarakat diharapkan tetap perlu mewaspadai perubahan cuaca karena hujan lokal masih dapat terjadi.

Hujan tersebut berpotensi disertai petir dan angin kencang sehingga warga perlu mengantisipasi pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan, hingga sambaran petir ketika cuaca memburuk.

“Potensi hujan dengan intensitas bervariasi tetap ada secara lokal, terutama di wilayah yang dipengaruhi dinamika atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan hujan,” tutur Andri. 

Baca Juga: Rumah Cepat Berdebu Saat Musim Kemarau? Catat 5 Cara Efektif Menguranginya

Selanjutnya, BMKG juga mengimbau masyarakat di Jakarta dan wilayah lainnya untuk mengantisipasi dampak cuaca panas dengan menjaga kecukupan cairan tubuh dan menggunakan pelindung dari paparan sinar matahari.

Warga juga diminta menghemat penggunaan air serta tidak melakukan pembakaran sampah atau membuka lahan dengan cara membakar.

“BMKG mengimbau masyarakat untuk menggunakan pelindung atau tabir surya serta menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari,” ucap Andri.


Berita Terkait


News Update