BANDUNG, POSKOTA.CO.ID - Masyarakat di wilayah Bandung Raya belakangan ini mengeluhkan kondisi udara yang terasa panas dan lembap. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu maksimum Kota Bandung bahkan menyentuh angka 32 derajat Celsius pada pertengahan Agustus 2026.
Kondisi gerah ini terjadi saat Bandung Raya berada di periode puncak musim kemarau. Namun, BMKG menegaskan rasa panas-lembap atau sumuk yang dirasakan warga bukan sekadar, karena terik musim kering.
Kepala Subbagian Tata Usaha Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Edi Wibowo menjelaskan, kondisi udara panas-lembap ini turut dipengaruhi oleh sejumlah dinamika atmosfer, satu di antaranya pertumbuhan awan konvektif lokal.
"Pertumbuhan awan konvektif secara lokal, suhu udara minimum cukup hangat dua hari terakhir pada kisaran 21-22°C, kelembapan udara cukup lembap 55-80 persen, sehingga kondisi udara terasa panas-lembap atau sumuk," kata Edi, Jumat, 21 Agustus 2026.
Baca Juga: BMKG Peringatkan Banjir Rob Pesisir Jakarta, Warga Muara Angke Desak Pemprov DKI Jangan Diam
Berdasarkan data BMKG sepanjang Agustus 2026, temperatur maksimum di Kota Bandung berkisar 32°C, sementara temperatur minimum berada di angka 18°C.
BMKG Tegaskan Belum Masuk Musim Hujan
Meski awan konvektif mulai tumbuh dan berpotensi memicu potensi hujan lokal di beberapa titik, BMKG meminta masyarakat untuk tidak menganggapnya sebagai tanda bahwa kemarau telah usai.
"Jadi kondisi tersebut belum menunjukkan musim kemarau segera berakhir," ucapnya.
Ia memaparkan, dinamika atmosfer saat ini memang masih mendukung suplai uap air dan pembentukan awan di wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung dan sekitarnya. Faktor utamanya adalah suhu permukaan laut di perairan Indonesia yang masih lumayan hangat serta pengaruh aktivitas gelombang Kelvin.
Baca Juga: Waspada Banjir Rob Pesisir Jakarta, BMKG Prediksi Muara Angke dan Penjaringan Paling Rawan
"Dalam beberapa hari ini terdapat beberapa dinamika atmosfer yang diprakirakan masih mendukung suplai uap air serta pertumbuhan awan konvektif secara lokal di sebagian wilayah Jawa Barat termasuk Bandung dan sekitarnya," tuturnya.
Walau fenomena ini mendatangkan hujan berskala lokal, BMKG mengingatkan agar publik tidak salah mengartikannya sebagai awal masuknya musim penghujan.
"Kondisi ini dipengaruhi oleh faktor lokal, belum menuju ke peralihan musim," pungkasnya.
