POSKOTA.CO.ID - Fenomena Super El Nino 2026 mulai menjadi perhatian para ilmuwan dunia setelah sejumlah lembaga iklim mengeluarkan peringatan mengenai potensi dampaknya. Kondisi ini diperkirakan tidak hanya memicu suhu udara yang lebih panas, tetapi juga memperpanjang musim kemarau dan meningkatkan risiko kekeringan di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.
Sejumlah pakar bahkan menyebut peristiwa kali ini berpotensi menjadi salah satu El Nino paling kuat dalam ratusan tahun terakhir.
Jika prediksi tersebut terbukti, dampaknya diperkirakan akan dirasakan hingga awal musim semi 2027, terutama terhadap sektor pertanian, ketersediaan air, dan ketahanan pangan global.
Baca Juga: Anjing Pelacak Dikerahkan Cari Potongan Kaki Korban Mutilasi di Pancoran Mas
Sejumlah Lembaga Dunia Keluarkan Peringatan
Ahli meteorologi Ryan Maue mengutip data dari Pusat Prakiraan Cuaca Eropa yang menunjukkan perkembangan El Nino saat ini berada pada jalur yang sangat kuat. Menurutnya, fenomena tersebut berpotensi menjadi salah satu peristiwa iklim paling ekstrem dalam kurun waktu 500 hingga 1.000 tahun terakhir.
Sementara itu, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) juga memproyeksikan El Nino mencapai kategori kuat pada periode Agustus hingga Oktober 2026. Kondisi tersebut diperkirakan mampu meningkatkan suhu rata-rata global sekaligus mengubah pola curah hujan di banyak kawasan dunia.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menilai dampak El Nino saat ini tidak bisa dipisahkan dari krisis iklim yang terus memburuk.
"Penggunaan bahan bakar fosil memperparah perubahan iklim sehingga dampak fenomena cuaca ekstrem menjadi semakin besar," ujar Antonio Guterres.
Peringatan tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan iklim dan fenomena alam kini saling memperkuat sehingga risiko yang ditimbulkan semakin sulit diprediksi.
BRIN: Super El Nino 2026 Resmi Terbentuk
Di Indonesia, Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, menyampaikan bahwa Super El Nino resmi terbentuk pada Rabu, 31 Juli 2026.
Menurutnya, karakteristik El Nino kali ini diperkirakan lebih agresif dibandingkan fenomena yang terjadi pada 2023.
