Ekonomika Pancasila: Mentradisikan Askiologi Ekopol Pancasila

Rabu 19 Agu 2026, 12:14 WIB
Opini Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono. (Sumber: Poskota)
Opini Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono. (Sumber: Poskota)

POSKOTA.CO.ID - Mari fokus. Ini soal lama yang absen. Ya, atas semua pembangunan kita yang tak berpancasila. Terutama pada aksinya. Kita tahu, aksiologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang "nilai" dan "tujuan." Jika ontologi bertanya "apa hakikat ekonomi" dan Epistemologi bertanya "bagaimana cara mengetahuinya," maka Aksiologi bertanya: "Untuk apa ekonomi itu ada? Nilai apa yang harus dikejar?"

Tentu saja, aksiologi Ekopol Pancasila menjawab bahwa ekopol bukanlah tujuan akhir. Ekopol adalah alat untuk mencapai kesejahteraan lahir dan batin, dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila.

Tanpa nilai, prestasi pertumbuhan ekopol bisa melahirkan ketimpangan, kemiskinan akut dan kerusakan moral yang stabil.

Dengan begitu, kita bersepakat bahwa tujuan utama Ekopol Pancasila adalah kesejahteraan, kedaulatan, kesentosaan dan kemartabatan lahir-batin bersama. Bukan satuan, bukan keluarga, bukan golongan, bukan SARA, tapi semua: tanpa pandang bulu.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Rekapitalisasi Kekayaan Nasional

Soal Nilai Inti Aksiologi Ekopol Pancasila

Dalam studi yang mendalam, ditemukan lima nilai dalam aksiologinya. Pertama, kebersamaan. Ekopolnya dibangun atas semangat gotong royong, bukan saling mematikan kemitraan di antara BUMN-Swasta-Koperasi. Semua bersatu padu pada dasar, cita-cita dan tujuan yang sama: se-iya sekata ber-Indonesia.

Kedua, keadilan sosial. Hasil pembangunan dinikmati semua warga, bukan hanya segelintir orang. Keadilannya harus mentradisi dan menjadi ide sekaligus agama semua orang.

Ketiga, bersentosa. Boleh mencari untung dan efisien, tapi tidak boleh serakah. Ada limitasi dan hak orang lain yang dipentingkan serta dijaga untuk dikerjakan.

Keempat, berkelanjutan. SDA digunakan dengan sepatutnya untuk generasi sekarang tanpa merampas hak anak cucu. Industri dan inovasi jadi kunci.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Restrukturisasi dan Redistribusi Aset

Kelima, kemandirian. Artinya bangsa berdikari, tidak tergantung dan tidak dieksploitasi bangsa lain. Daulat ekonomi jadi ultima.

Soal Etika dalam Kegiatan Ekopol

Karena tujuannya mulia, maka caranya pun harus mulia. Aksiologi ekopol Pancasila menolak segala cara yang bertentangan dengan nilai-nilai yang terus ada: 1. Anti Eksploitasi; 2. Anti Korupsi, Kolusi Nepotisme; 3. Anti Monopoli; 4. Anti konglo hitam, oligarki jahat dan pasar gelap; 5. Anti keserakahan yang menghancurkan lingkungan.

Moral, etika dan kesemestaan terus dipegang dalam setiap kesempatan. Tanpa itu, kita berdosa dan dikutuk alam raya.

Soal Peran Negara, Masyarakat, dan Individu

Aksiologi ini menuntut peran bersama: 1. Negara berperan membuat regulasi adil, hadir saat pasar gagal, melindungi yang lemah. 2. Pelaku usaha berperan tidak hanya cari untung, tapi juga punya tanggung jawab sosial yang berkelanjutan. 3. Rakyat berperan secara produktif, jujur, dan gemar gotong-royong

Singkatnya, aksiologi ekopol Pancasila menegaskan bahwa "ekopol ada untuk manusia dan semesta, bukan sebaliknya." Nilai yang dikejar bukan hanya materi, tetapi juga keadilan, kebersamaan, kemandirian, kesentosaan dan keberkahan.

Jika sebuah kebijakan ekonomi membuat kaya segelintir orang tapi membuat banyak orang menderita, maka secara aksiologi kebijakan itu salah, meskipun secara angka dan neraca "tumbuh."

Dengan begitu, aksiologi ekopol Pancasila adalah ekonomi yang bermoral, beretika dan bersemesta. Ia mengingatkan kita bahwa tujuan akhir hidup, pembangunan dan berbegara bukanlah menjadi negara terkaya, tetapi menjadi bangsa yang sejahtera, adil, sentosa dan bermartabat.


Berita Terkait


News Update