POSKOTA.CO.ID - Mari fokus. Ini soal lama yang absen. Ya, atas semua pembangunan kita yang tak berpancasila. Terutama pada aksinya. Kita tahu, aksiologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang "nilai" dan "tujuan." Jika ontologi bertanya "apa hakikat ekonomi" dan Epistemologi bertanya "bagaimana cara mengetahuinya," maka Aksiologi bertanya: "Untuk apa ekonomi itu ada? Nilai apa yang harus dikejar?"
Tentu saja, aksiologi Ekopol Pancasila menjawab bahwa ekopol bukanlah tujuan akhir. Ekopol adalah alat untuk mencapai kesejahteraan lahir dan batin, dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila.
Tanpa nilai, prestasi pertumbuhan ekopol bisa melahirkan ketimpangan, kemiskinan akut dan kerusakan moral yang stabil.
Dengan begitu, kita bersepakat bahwa tujuan utama Ekopol Pancasila adalah kesejahteraan, kedaulatan, kesentosaan dan kemartabatan lahir-batin bersama. Bukan satuan, bukan keluarga, bukan golongan, bukan SARA, tapi semua: tanpa pandang bulu.
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Rekapitalisasi Kekayaan Nasional
Soal Nilai Inti Aksiologi Ekopol Pancasila
Dalam studi yang mendalam, ditemukan lima nilai dalam aksiologinya. Pertama, kebersamaan. Ekopolnya dibangun atas semangat gotong royong, bukan saling mematikan kemitraan di antara BUMN-Swasta-Koperasi. Semua bersatu padu pada dasar, cita-cita dan tujuan yang sama: se-iya sekata ber-Indonesia.
Kedua, keadilan sosial. Hasil pembangunan dinikmati semua warga, bukan hanya segelintir orang. Keadilannya harus mentradisi dan menjadi ide sekaligus agama semua orang.
Ketiga, bersentosa. Boleh mencari untung dan efisien, tapi tidak boleh serakah. Ada limitasi dan hak orang lain yang dipentingkan serta dijaga untuk dikerjakan.
Keempat, berkelanjutan. SDA digunakan dengan sepatutnya untuk generasi sekarang tanpa merampas hak anak cucu. Industri dan inovasi jadi kunci.
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Restrukturisasi dan Redistribusi Aset
Kelima, kemandirian. Artinya bangsa berdikari, tidak tergantung dan tidak dieksploitasi bangsa lain. Daulat ekonomi jadi ultima.
