“Saya lebih memilih kritikan, ketimbang pujian” tegas mas Bro.
“Kok bisa?” tanya Yudi menimpali.
“Karena kritikan membuat kita selalu terjaga, sedangkan pujian bisa membuat terlena. Dengan seringnya mendapat kritikan sebagai pertanda apa yang telah kita lakukan belum sepenuhnya baik dan benar. Baik menurut saya belum tentu baik bagi orang lain, terlebih untuk banyak orang. Melalui kritikan membuat kita selalu mawas diri,” urai mas Bro.
“Lantas kalau pujian, mengapa bisa membuat terlena?” tanya Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Korupsi Kepala Daerah Marak, Salah Siapa?
“Pujian memang kebanggaan tersendiri, bisa membuat hati kita senang dan bahagia bahwa apa yang telah kita lakukan mendapat penghargaan. Tapi jangan lantas berpuas diri karena pujian, jangan terbuai karena sanjungan hingga lupa diri, dan berhenti menjaga prestasi,” jelas mas Bro.
“Setuju Bro. Yang mendapat pujian lupa diri kemudian berhenti berprestasi, sementara yang selalu mendapat kritikan terus berbenah diri melakukan perbaikan demi memenuhi harapan banyak orang,” ujar Heri.
“Ujungnya banyak kritikan akan membuahkan pujian dan sanjungan, sementara pujian akan berbalik menjadi kritikan, jika disikapi dengan penuh kesombongan,” kata Yudi.
“Jadi kita perlu menahan diri memberikan pujian?” tanya Heri.
“Pujian harus diberikan. Pemerintahan,baik pemda maupun pusat yang telah menorehkan banyak prestasi bagi kesejahteraan rakyat harus kita puji sebagai bentuk dukungan,” harap mas Bro.
“Kalau tak ada yang memuji, haruskah memuji diri sendiri?” ujar Yudi.
“Mengkritik diri sendiri dianjurkan, memuji diri sendiri juga alami sepanjang bertujuan positif. Memuji bahwa sejatinya diri kita memiliki potensi besar yang dapat dikembangkan guna memberi manfaat bagi banyak orang,Itulah yang diamalkan secara sungguh- sungguh,” urai mas Bro.
