POSKOTA.CO.ID - “Guna merawat kepercayaan publik, kian dibutuhkan pemimpin yang mengedepankan kejujuran dan keadilan, taat asas dan norma, selain menjunjung tinggi nilai etik dan moral.Tak kalah pentingnya menyelaraskan program sejalan dengan kehendak masyarakat," kata Harmoko.
Melibatkan partisipasi masyarakat, tanpa kecuali, dalam setiap gerak langkah pembangunan menjadi keharusan, mulai perumusan kebijakan, pelaksanaan di lapangan, pengawasan hingga evaluasi program. Partisipasi ini menjadi landasan supaya pembangunan bisa berlangsung dengan cara yang adil dan bertanggung jawab.
Program pembangunan akan membawa keberhasilan akan mendatangkan banyak manfaat jika didukung sepenuhnya oleh partisipasi rakyat, bukan segelintir orang sebagai penikmatnya.
Membangun partisipasi adalah membangun kesadaran, bukan melalui pemaksaan sebagaimana telah diamanatkan dalam falsafah bangsa kita, Pancasila, di antaranya untuk tidak bersikap semena-mena, tidak pula memaksakan kehendak kepada orang lain.
Baca Juga: Kopi Pagi: Menyiapkan Generasi Emas
Partisipasi yang dipaksakan tidak saja akan dijauhi, tetapi dapat menimbulkan antipati. Kalau pun dipaksakan karena adanya kekuatan dan kekuasaan, tingkat partisipasi yang muncul hanyalah di permukaan. Sering disebut sebagai partisipasi semu.
Kesadaran partisipasi akan tumbuh jika dilandasi adanya kepercayaan publik.Tanpa kepercayaan, tingkat partisipasi hanya moncer dalam slogan, tetapi jauh dari kenyataan; ruang publik dipenuhi narasi partisipasi, tetapi minim aksi.
Itulah mengapa kita, utamanya para elite politik dan pejabat publik perlu senantiasa menjaga dan merawat kepercayaan publik yang di antaranya dapat diukur dari tingkat kepuasan terhadap kinerja pemerintahan.
Menjaga dan merawat memang tak semudah menanam. Ibarat pertandingan, mempertahankan kejuaraan lebih sulit, ketimbang meraih kejuaraan, karena boleh jadi lawan yang dihadapi untuk mempertahankan kejuaraan sekarang lebih tangguh daripada lawan yang dihadapi saat meraih juara dulu.
Baca Juga: Kopi Pagi: Belum Satunya Kata dengan Perbuatan
Apa pun alasannya, tidak berhasil mempertahankan gelar juara berarti kemunduran prestasi. Olahraga memang beda dengan dunia politik, tetapi mempertahankan prestasi untuk mendapatkan kepercayaan dan pengakuan publik adalah keniscayaan guna memperoleh dukungan.
Kian meningkatkan kepercayaan, setidaknya mempertahankan kepercayaan semakin menjadi penting. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, kian tinggi tingkat kepercayaan, akan berefek kepada semakin tinggi pula tingkat partisipasi publik dalam program pembangunan.
Sebaliknya semakin rendah tingkat kepercayaan, tak hanya kian rendah tingkat partisipasi publik, kadang diwarnai dengan lahirnya kontroversi, ketidakpedulian , tak terkecuali kian deras mengalirnya saran dan kritik perbaikan.
Kita tentu tidak berkehendak rakyat hanya menjadi penonton dan penerima pembangunan. Tidak pula hanya rajin mengkritisi, tetapi minim ikut berkontribusi mencarikan solusi.
Yang dibutuhkan adalah aktif bergerak menjadi pelaku pembangunan, ikut berkontribusi dalam menyelesaikan solusi sebagai indikasi tingginya partisipasi publik.Kita perlu belajar pada para pendiri bangsa yang mendapat kepercayaan penuh dari rakyat.
Para pemimpin bangsa itu memiliki integritas yang tinggi, sehingga rakyat pun akhirnya memberikan kepercayaan tanpa syarat (unconditional trust) kepada para pemimpinnya. Berintegritas berarti memiliki karakter kuat, teguh mempertahankan prinsip, memiliki pribadi yang jujur, taat asas, norma dan etika menjadi dasar yang melekat pada diri sendiri sebagai nilai-nilai moral.
Baca Juga: Kopi Pagi: Negara dan Ekonomi yang Adil
Semakin tinggi tingkatan integritasnya, semakin tinggi pula nilai-nilai moral yang melekat pada dirinya. Itulah sebabnya pribadi yang demikian sering disebut memiliki akhlak yang baik, akhlak yang mulia.
Sejarah membuktikan pemimpin yang demikian kian mendapat kepercayaan publik, dukungan penuh dari rakyat dalam setiap program pembangunan, kebijakan yang digulirkan, bukan hanya dalam ucapan, tetapi perbuatan yang tercermin dari tingginya tingkat partisipasi rakyat.
Guna merawat kepercayaan publik, kian dibutuhkan pemimpin yang mengedepankan kejujuran dan keadilan, taat asas dan norma, selain menjunjung tinggi nilai etik dan moral, seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.
Tak kalah pentingnya menyelaraskan program sejalan dengan kehendak masyarakat, sesuai kebutuhan masyarakat, dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh rakyat secara keseluruhan hingga lapisan masyarakat bawah (akar rumput).
Baca Juga: Kopi Pagi: Koperasi vs Oligarki Ekonomi
Mengapa? Jawabnya karena merekalah yang harus dibangun, merekalah yang sewajarnya menikmati hasil dari apa yang dibangun, tetapi mereka pula yang tahu persis apa yang harus dibangun di daerahnya.
Lebih paham apa yang mereka butuhkan saat ini dan ke depan. Mana yang mendesak, mana pula bagian yang bisa ditunda untuk sementara.
Mereka lebih paham apa kendala dan problemnya, serta akses pasarnya. Juga sejauh mana batas kemampuan sumber daya alam dan manusianya. Juga lebih memahami agar program dari pusat tidak berseberangan dengan nilai-nilai dan adat budaya setempat.
Semoga dengan terjaganya kepercayaan publik akan terbangun kesadaran berpartisipasi secara aktif, rakyat akan “rumongso melu handarbeni dan wajib melu angrungkebi”- merasa ikut memiliki dan wajib merawat dan menjaga setiap program dan kebijakan yang digulirkan pemerintah, berikut hasil-hasilnya.
