POSKOTA.CO.ID - “Saling berbagi sebagai implementasi subsidi silang perlu diedukasi dan didorong melalui keteladanan, utamanya bagi mereka yang selama ini kerap menyuarakan kebersamaan dan nilai- nilai kemanusian. Secara lebih luas para tokoh masyarakat, pejabat di semua tingkatan,” kata Harmoko.
Situasi guyub rukun dapat kita saksikan pada prosesi pemotongan hewan kurban, mulai dari penyembelihan, pengulitan, pencacahan, penimbangan hingga pembagian.
Itulah gambaran masyarakat Indonesia dalam membangun kebersamaan dalam momen-momen tertentu seperti hajatan desa, kerja bakti lingkungan, termasuk ritual keagamaan dalam pemotongan hewan kurban yang berlangsung setiap tahun, dari masa ke masa. Guyub rukun sebagai jati diri bangsa tidak pernah sirna.
Semua dilakukan dengan penuh ketulusan, bukan keterpaksaan atau pun tekanan. Dengan kesadaran diri, bukan bermaksud mencari simpati, terlebih mendapatkan sanjungan.
Baca Juga: Kopi Pagi : Cepat dan Bijak
Begitupun mereka yang berkurban didasari niat untuk saling berbagi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, bukan untuk beradu gengsi.
Kita paham betul, kurban tidak semata ibadah vertikal, tetapi juga horizontal. Manusia yang berkurban sama saja dengan menyejahterakan sesama. Bahkan, dengan berkurban, kita juga dapat menebar persaudaraan.
Yang memiliki kelebihan harta agar memberikan sebagian miliknya kepada mereka yang kekurangan. Yang mampu agar membantu mereka yang belum mampu.
Dalam program pembangunan nasional sering kita kenal istilah "subsidi silang". Negara memberikan subsidi kepada rakyatnya karena sisi ekonomi memang memang perlu disubsidi, sebuat saja bantuan langsung tunai, bantuan melalui sembako kepada masyarakat prasejahtera.
Baca Juga: Kopi Pagi: Bersama Tanpa Prasangka dan Curiga
Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang dijual di bawah harga eceran, selisih harganya harus ditanggung negara. Sementara itu, masyarakat mampu membeli BBM nonsubsidi seperti pertamax, gas kemasan 5,5 hingga 12 kg, di mana harganya jauh lebih tinggi ketimbang gas melon.
