Diduga Akibat Debu Pabrik Kapur, Ratusan Warga KBB Suspek TB dan ISPA

Senin 03 Agu 2026, 13:15 WIB
Kondisi kawasan Jalan Raya Cipatat yang terkena dampak debu batu kapur. (Sumber: Poskota/Gatot Poedji Utomo)
Kondisi kawasan Jalan Raya Cipatat yang terkena dampak debu batu kapur. (Sumber: Poskota/Gatot Poedji Utomo)

BANDUNG BARAT, POSKOTA.CO.ID - Dugaan pencemaran debu dari aktivitas pabrik kapur di Kecamatan Cipatat dan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), kian mengkhawatirkan.

Hasil skrining massal Dinas Kesehatan (Dinkes) KBB mengungkap ratusan warga mengalami gangguan pernapasan, sementara 378 orang masuk kategori suspek tuberkulosis (TB).

Temuan tersebut menjadi sinyal serius yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Di tengah keluhan warga mengenai debu yang diduga berasal dari kawasan industri kapur, hasil pemeriksaan kesehatan kini menunjukkan banyak warga harus menjalani pemeriksaan lanjutan akibat ditemukannya indikasi gangguan paru-paru.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan KBB, Lia Nurliani Sukandar, mengatakan skrining kesehatan dilaksanakan pada 25-31 Juli 2026 melalui kolaborasi Dinkes Provinsi Jawa Barat, Dinkes KBB, empat puskesmas, dan sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan.

Baca Juga: Tambang Ilegal Hambat Distribusi Kapur, UMKM di Cipatat Terpukul

Selama sepekan pelaksanaan, tercatat 2.974 kunjungan pelayanan kesehatan. Sebanyak 2.870 orang mengikuti program Cek Kesehatan Gratis (CKG), sedangkan 1.772 warga menjalani pemeriksaan rontgen dada untuk mendeteksi gangguan pada paru-paru.

Hasilnya mengejutkan, sebanyak 378 warga atau 13,2 persen dinyatakan suspek TB. Dari jumlah tersebut, 304 orang telah menjalani pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) guna memastikan diagnosis.

Tak hanya itu, 267 warga mengalami gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), sementara 25 orang lainnya terindikasi sebagai suspek Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).

"Dinkes juga menemukan 819 warga memiliki indikasi hipertensi dan 117 orang menunjukkan gejala diabetes melitus," kata Lia kepada Poskota, Senin, 3 Agustus 2026.

Baca Juga: Pembakaran Batu Kapur di Karawang jadi Penyebab Kualitas Udara Jakarta Buruk

Dia melanjutkan, dari hasil skrining, sebanyak 549 peserta tercatat sebagai perokok. Faktor tersebut dinilai dapat memperbesar risiko gangguan paru, namun tidak menghilangkan pentingnya menelusuri kemungkinan pengaruh kualitas udara terhadap kesehatan masyarakat di sekitar kawasan industri.

Dia pun menegaskan, seluruh temuan tersebut masih berupa hasil skrining awal sehingga belum dapat dijadikan diagnosis pasti.

"Peserta dengan hasil skrining yang tidak normal akan ditindaklanjuti melalui pemeriksaan lanjutan, penegakan diagnosis, pengobatan, rujukan hingga pemantauan sesuai indikasi medis dan standar pelayanan kesehatan yang berlaku," ungkapnya.

Selain memeriksa kesehatan warga, kata dia, pihaknya juga menguji kualitas udara di lingkungan pemukiman. Pengambilan sampel dilakukan di RW 22 wilayah kerja Puskesmas Cipatat pada 15 rumah.

Baca Juga: Mantan Sipir Bongkar Kualitas Makanan di Lapas dan Rutan, AB: Nasi Cadong, Keras Seperti Kapur 

"Hasil sementara menunjukkan tujuh rumah memiliki kadar partikulat PM10 dan PM2,5 yang melebihi ambang baku mutu. Temuan ini memperkuat perlunya investigasi lebih mendalam terhadap sumber pencemaran udara di kawasan tersebut," tuturnya.

Meski demikian, Dinkes belum menyimpulkan bahwa seluruh partikulat berasal dari aktivitas pabrik kapur.

Saat pengukuran dilakukan, tidak semua mesin pabrik sedang beroperasi dan lokasi permukiman juga berdekatan dengan jalan raya yang berpotensi menjadi sumber debu lainnya.

"Namun, hasil tersebut belum dapat langsung disimpulkan berasal dari satu sumber tertentu, karena pada saat pengukuran tidak seluruh mesin pabrik beroperasi dan lokasi permukiman juga berdekatan dengan jalan raya," ungkapnya.

Baca Juga: 3 Pelaku Begal Hape Asal Sukapura Diamankan, 3 Temannya Masih Dalam Pengejaran.

Temuan ini diperkirakan akan menambah tekanan kepada pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah konkret.

Warga berharap dugaan pencemaran tidak hanya berhenti pada pemeriksaan kesehatan, tetapi juga diikuti pengawasan lingkungan yang lebih ketat, investigasi terhadap sumber polusi, serta tindakan tegas apabila terbukti terjadi pelanggaran yang membahayakan kesehatan masyarakat.

"Tentu harapannya masalah debu ini segera selesai, sebab kesehatan warga sangat terancam oleh debu dari aktivitas pengolahan batu kapur," ujar Obir 56 tahun, warga Cipatat.


Berita Terkait


News Update