POSKOTA.CO.ID - “Kritikan itu pahit, kadang menyakitkan, tetapi mendidik jiwa jika diterima dengan baik. Sementara, pujian itu manis tetapi merusak hati jika diterima dengan angkuh. Kita harus memilih, menerima kritikan sebagai pemacu motivasi, penambah semangat memperbaiki diri meraih prestasi atau cukup puas dengan pujian yang memabukkan?" kata Harmoko.
Melalui kolom ini sering kami singgung soal kritik mengkritik, perihal kritik yang disampaikan dan bagaimana sebaiknya merespons kritikan. Indonesia sebagai negara demokrasi, tentu meniscayakan kritk, terlebih jika pilar demokrasi dirasa masih kurang lega mewadahi aspirasi.
Meski terdapat ruang untuk membantah, tetapi kritik tak bisa dicegah, mengingat setiap orang, siapa pun dia boleh melontarkan kritik.
Tak sedikit yang menafsirkan bahwa kritik itu bagaikan vitamin. Ada yang menyebut bahwa kritik itu “obat kuat’penambah semangat memperbaiki diri meraih prestasi lebih baik lagi. Kritik juga sebagai pengawal jiwa kita, penyelamat untuk senantiasa menapaki jalan yang benar.
Baca Juga: Kopi Pagi: Menyiapkan Generasi Emas
Di sisi lain, kritikan tidak bisa terhindarkan. Setiap orang tak lepas dari kritikan mengingat tiada kesempurnaan di dunia ini baik sebagai makhluk individu maupun sosial. Dan, karena kehidupan sosial itulah, maka hadir kritikan.
Karenanya kritikan hendaknya disikapi sebagai bentuk kepedulian untuk saling mengisi dan melengkapi baik kekurangan maupun kelebihan. Jika dikatakan kritik itu beda dengan caci maki, tidaklah keliru karena kedua kata dimaksud beda makna.Kritik juga bukan fitnah, begitu juga hendaknya.
Tidak terbantahkan, belakangan kita menyaksikan beragam kritik bertebaran di dunia maya. Kadang kita sulit membedakan mana yang kritik, masukan dan candaan. Mana pula yang cacian dan hasutan serta menjurus fitnah karena semua respons atas sebuah info datang berbarengan dalam waktu begitu cepat, hanya per sekian detik.
Patut menjadi renungan, jika kritik yang hanya bertengger di atas dasar berita hoax. Kalau sumber informasi untuk mengkritik berasal dari hoax, maka isi kritikan menjadi dua kali lebih hoaks.
Jika demikian adanya, maka siapa pun yang hoax akan menjadi lebih hoax, yang dikritik atau pun yang mengkritik?
Sering dikatakan kritik itu saran atau masukan. Memang, pada dasarnya kritik, saran dan masukan beda kata dan makna, tetapi hendaknya kita pandai dan bijak menyikapi. Bukankah era sekarang disebut "era cerdas mengemas?".
