Kopi Harmoko: Menyeimbangkan Kritikan dan Pujian

Senin 27 Jul 2026, 06:41 WIB
Kopi Pagi hari ini, Senin, 27 Juli 2026. (Sumber: Poskota)
Kopi Pagi hari ini, Senin, 27 Juli 2026. (Sumber: Poskota)

Mereka yang dikritik perlu legowo, dan bijak pula dalam merespons. Jangan emosional bagai orang kebakaran jenggot. Orang bijak tidak layak takut atas risiko kritik, sebab seseorang tidak akan menjadi hina dan jatuh harga dirinya karena dikritik.

Orang yang optimistis dan dinamis serta ingin maju, berharap adanya kritik. Sebab, kritik dapat membangun motivasi, dan membuat rasa percaya diri lebih tinggi.

Jangan biarkan kritik mematahkan semangat. Justru dengan kritik, kita bisa selalu belajar dan siap menghadapi masalah. Jangan pula melihat kritikan orang lain sebagai sebuah kebencian, hendaknya dijadikan sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri sendiri.

Memang, kritikan itu pahit, kadang menyakitkan, tetapi mendidik jiwa jika diterima dengan baik. Sementara, pujian itu manis tetapi merusak hati jika diterima dengan angkuh.

Kita harus memilih, menerima kritikan sebagai pemacu motivasi, sebagai "obat kuat" penambah semangat memperbaiki diri meraih prestasi atau cukup puas dengan pujian yang memabukkan.

Perlu diingat, tidak semua pujian itu tulus. Dan tidak semua kritik menjatuhkan. Acapkali di dalam pujian terselip sindiran, dan kritik itu malah memotivasi diri.

Yang pasti, perlu kesadaran untuk mengevaluasi diri sejauh mana yang sudah kita jalani, sebesar apa yang sudah kita lakukan.

Mengukur sejauh mana tindakan kita, dapat diperoleh dengan mendengar kritikan, bukan pujian. Pesan yang hendak saya sampaikan adalah janganlah kita alergi terhadap kritik.

Jika kita tidak siap menerima kritikan, sama artinya kita belum siap untuk dipuji. Kita patut bersyukur jika menerima banyak kritikan, karena itu adalah indikasi telah melakukan hal-hal penting. Tanpa pernah dikritik berarti Anda tidak pernah melakukan suatu hal penting dan menarik.

Jika tidak mau dikritik, jangan lakukan apa pun, tidak berkata apa pun dan tidak menjadi apa pun. Itulah perlunya sikap bijak dalam merespons kritikan.

Bijak pula untuk menyeimbangkan antara kritikan dengan pujian. Bukan hanya ceria menerima sanjungan dan pujian, tetapi cemberut begitu datang kritikan.

Sementara yang mengkritik, tidak asal kritik.Hendaknya kritikan dilakukan demi perbaikan, penuh kasih sayang,didasari atas keinginan untuk memajukan, bukan memundurkan.


Berita Terkait


News Update