Kenapa Kita Ikut Menguap Saat Melihat Orang Lain Menguap? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Rabu 22 Jul 2026, 20:25 WIB
Fenomena menguap yang menular dapat terjadi ketika seseorang melihat orang lain menguap dan secara spontan melakukan hal serupa. (Sumber: Wikimedia Commons)
Fenomena menguap yang menular dapat terjadi ketika seseorang melihat orang lain menguap dan secara spontan melakukan hal serupa. (Sumber: Wikimedia Commons)

POSKOTA.CO.ID - Menguap adalah salah satu respons tubuh yang paling sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Hampir semua orang pernah mengalaminya, begitu pula dengan sejumlah hewan. Dalam kondisi tertentu, seseorang bahkan bisa menguap berkali-kali dalam sehari.

Selama ini, menguap sering dikaitkan dengan rasa kantuk, lelah, atau bosan. Namun, ada satu hal menarik yang mungkin pernah dialami banyak orang: ikut menguap setelah melihat orang lain menguap.

Fenomena tersebut terasa begitu spontan. Bahkan, terkadang kita baru saja melihat seseorang menguap, lalu beberapa detik kemudian tanpa sadar melakukan hal yang sama. Lantas, mengapa hal ini bisa terjadi?

Baca Juga: Cara Daftar Wisuda Universitas Terbuka 2026, Cek Syarat dan Tahapannya

Menguap Bisa Menular Saat Melihat Orang Lain

Fenomena ikut menguap setelah melihat orang lain dikenal dengan istilah contagious yawning atau menguap yang menular. Respons ini berbeda dari menguap biasa karena dipicu oleh pengamatan terhadap perilaku orang lain.

Mengutip PBS News, kemungkinan seseorang untuk ikut menguap dapat meningkat hingga beberapa kali lipat setelah melihat orang lain melakukan hal serupa. Respons tersebut juga cenderung muncul secara otomatis tanpa perlu dipikirkan terlebih dahulu.

Menariknya, kemampuan untuk mengalami menguap yang menular ternyata tidak selalu muncul sejak seseorang lahir. Sejumlah penelitian menunjukkan, anak-anak umumnya mulai menunjukkan perilaku ini ketika memasuki usia sekitar empat atau lima tahun.

Pada tahap tersebut, kemampuan sosial dan empati anak mulai berkembang. Karena itu, melihat orang lain menguap diduga dapat memicu respons untuk melakukan tindakan yang sama.

Ada Hubungan dengan Empati dan Neuron Cermin

James Giordano, ilmuwan saraf dari Georgetown University, menjelaskan bahwa fenomena tersebut kemungkinan berkaitan dengan social mirroring, yaitu kecenderungan seseorang meniru tindakan atau perilaku yang dilakukan orang lain.

"Neuron-neuron ini berperan dalam mencocokkan apa yang kita rasakan dan indrawi dengan cara kita bergerak," kata Giordano, seperti dikutip PBS News.

Konsep serupa sebenarnya bisa ditemukan dalam aktivitas sehari-hari. Ketika melihat seseorang tertawa, misalnya, kita terkadang ikut tersenyum atau tertawa. Begitu pula saat melihat orang menyilangkan kaki atau menggaruk wajah.

"Jadi, jika seseorang melihat saya menggaruk wajah, mereka akan tahu bagaimana rasanya. Anda mungkin terdorong untuk melakukannya juga," ujarnya.

Dari sini, menguap yang menular tidak sekadar dianggap sebagai refleks tubuh. Respons tersebut juga diduga memiliki kaitan dengan interaksi sosial dan empati. Seseorang yang memiliki tingkat empati lebih tinggi disebut cenderung lebih mudah mengalami social mirroring.

Beberapa Fakta tentang Menguap yang Menular

Bisa dipicu oleh penglihatan: Melihat orang lain menguap dapat meningkatkan kemungkinan kita ikut menguap.

Tidak selalu berkaitan dengan kantuk: Menguap dapat muncul sebagai respons sosial, bukan hanya karena tubuh merasa lelah.

Mulai terlihat pada anak-anak: Perilaku menguap yang menular umumnya mulai muncul ketika anak berusia sekitar empat atau lima tahun.

Berkaitan dengan respons sosial: Fenomena ini diduga berhubungan dengan empati dan kecenderungan manusia meniru perilaku orang lain.

Baca Juga: Rinoa Aurora Anak Siapa? Profil, Umur, Karier, dan Instagram

Kapan Menguap Berlebihan Perlu Diwaspadai?

Pada dasarnya, menguap merupakan hal yang normal dan tidak perlu dikhawatirkan. Namun, situasinya bisa berbeda jika seseorang mengalami menguap secara berlebihan, berulang kali, dan tidak diketahui penyebabnya.

Menurut Medical News Today, kondisi tersebut dalam kasus tertentu dapat berkaitan dengan gangguan tidur, masalah pada sistem saraf, hingga kondisi kesehatan tertentu. Salah satu mekanisme yang pernah dikaitkan adalah keterlibatan saraf vagus, yang menghubungkan sejumlah organ tubuh dengan otak.

Meski begitu, menguap berlebihan tidak otomatis berarti seseorang mengalami penyakit serius. Jika kondisi tersebut muncul terus-menerus atau disertai gejala lain yang mengganggu, pemeriksaan oleh tenaga medis dapat menjadi langkah yang tepat untuk mengetahui penyebabnya.

Pada akhirnya, alasan kita ikut menguap saat melihat orang lain menguap tampaknya tidak sesederhana rasa kantuk. Fenomena ini menunjukkan bagaimana otak dan tubuh manusia dapat merespons perilaku orang lain secara spontan. Empati, peniruan sosial, dan mekanisme neuron cermin menjadi beberapa faktor yang diduga berperan dalam respons tersebut.


Berita Terkait


News Update