"Jadi, jika seseorang melihat saya menggaruk wajah, mereka akan tahu bagaimana rasanya. Anda mungkin terdorong untuk melakukannya juga," ujarnya.
Dari sini, menguap yang menular tidak sekadar dianggap sebagai refleks tubuh. Respons tersebut juga diduga memiliki kaitan dengan interaksi sosial dan empati. Seseorang yang memiliki tingkat empati lebih tinggi disebut cenderung lebih mudah mengalami social mirroring.
Beberapa Fakta tentang Menguap yang Menular
Bisa dipicu oleh penglihatan: Melihat orang lain menguap dapat meningkatkan kemungkinan kita ikut menguap.
Tidak selalu berkaitan dengan kantuk: Menguap dapat muncul sebagai respons sosial, bukan hanya karena tubuh merasa lelah.
Mulai terlihat pada anak-anak: Perilaku menguap yang menular umumnya mulai muncul ketika anak berusia sekitar empat atau lima tahun.
Berkaitan dengan respons sosial: Fenomena ini diduga berhubungan dengan empati dan kecenderungan manusia meniru perilaku orang lain.
Baca Juga: Rinoa Aurora Anak Siapa? Profil, Umur, Karier, dan Instagram
Kapan Menguap Berlebihan Perlu Diwaspadai?
Pada dasarnya, menguap merupakan hal yang normal dan tidak perlu dikhawatirkan. Namun, situasinya bisa berbeda jika seseorang mengalami menguap secara berlebihan, berulang kali, dan tidak diketahui penyebabnya.
Menurut Medical News Today, kondisi tersebut dalam kasus tertentu dapat berkaitan dengan gangguan tidur, masalah pada sistem saraf, hingga kondisi kesehatan tertentu. Salah satu mekanisme yang pernah dikaitkan adalah keterlibatan saraf vagus, yang menghubungkan sejumlah organ tubuh dengan otak.
Meski begitu, menguap berlebihan tidak otomatis berarti seseorang mengalami penyakit serius. Jika kondisi tersebut muncul terus-menerus atau disertai gejala lain yang mengganggu, pemeriksaan oleh tenaga medis dapat menjadi langkah yang tepat untuk mengetahui penyebabnya.
Pada akhirnya, alasan kita ikut menguap saat melihat orang lain menguap tampaknya tidak sesederhana rasa kantuk. Fenomena ini menunjukkan bagaimana otak dan tubuh manusia dapat merespons perilaku orang lain secara spontan. Empati, peniruan sosial, dan mekanisme neuron cermin menjadi beberapa faktor yang diduga berperan dalam respons tersebut.
