POSKOTA.CO.ID - Menguap adalah salah satu respons tubuh yang paling sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Hampir semua orang pernah mengalaminya, begitu pula dengan sejumlah hewan. Dalam kondisi tertentu, seseorang bahkan bisa menguap berkali-kali dalam sehari.
Selama ini, menguap sering dikaitkan dengan rasa kantuk, lelah, atau bosan. Namun, ada satu hal menarik yang mungkin pernah dialami banyak orang: ikut menguap setelah melihat orang lain menguap.
Fenomena tersebut terasa begitu spontan. Bahkan, terkadang kita baru saja melihat seseorang menguap, lalu beberapa detik kemudian tanpa sadar melakukan hal yang sama. Lantas, mengapa hal ini bisa terjadi?
Baca Juga: Cara Daftar Wisuda Universitas Terbuka 2026, Cek Syarat dan Tahapannya
Menguap Bisa Menular Saat Melihat Orang Lain
Fenomena ikut menguap setelah melihat orang lain dikenal dengan istilah contagious yawning atau menguap yang menular. Respons ini berbeda dari menguap biasa karena dipicu oleh pengamatan terhadap perilaku orang lain.
Mengutip PBS News, kemungkinan seseorang untuk ikut menguap dapat meningkat hingga beberapa kali lipat setelah melihat orang lain melakukan hal serupa. Respons tersebut juga cenderung muncul secara otomatis tanpa perlu dipikirkan terlebih dahulu.
Menariknya, kemampuan untuk mengalami menguap yang menular ternyata tidak selalu muncul sejak seseorang lahir. Sejumlah penelitian menunjukkan, anak-anak umumnya mulai menunjukkan perilaku ini ketika memasuki usia sekitar empat atau lima tahun.
Pada tahap tersebut, kemampuan sosial dan empati anak mulai berkembang. Karena itu, melihat orang lain menguap diduga dapat memicu respons untuk melakukan tindakan yang sama.
Ada Hubungan dengan Empati dan Neuron Cermin
James Giordano, ilmuwan saraf dari Georgetown University, menjelaskan bahwa fenomena tersebut kemungkinan berkaitan dengan social mirroring, yaitu kecenderungan seseorang meniru tindakan atau perilaku yang dilakukan orang lain.
"Neuron-neuron ini berperan dalam mencocokkan apa yang kita rasakan dan indrawi dengan cara kita bergerak," kata Giordano, seperti dikutip PBS News.
Konsep serupa sebenarnya bisa ditemukan dalam aktivitas sehari-hari. Ketika melihat seseorang tertawa, misalnya, kita terkadang ikut tersenyum atau tertawa. Begitu pula saat melihat orang menyilangkan kaki atau menggaruk wajah.
