Kopi Pagi: Bersama Tanpa Prasangka dan Curiga

Senin 22 Jun 2026, 07:00 WIB
Ilustrasi Kopi Pagi. (Sumber: Poskota)
Ilustrasi Kopi Pagi. (Sumber: Poskota)

POSKOTA.CO.ID - Kebersamaan tanpa prasangka dapat terwujud jika: Ada komitmen yang jelas, menjunjung tinggi toleransi, menghargai perbedaan, terdapat kepentingan yang sama dan adanya kepercayaan. Tak kalah pentingnya adalah ketulusan dan keikhlasan serta ditopang adanya keteladanan para elite politik dalam merespons situasi. -Harmoko -

Kebersamaan membangun negeri bukan sebatas retorika, tetapi butuh realita dan karya nyata, bukan mengejar citra. Tidak terbantahkan, menyongsong pemerintahan baru sudah dimulai dengan upaya membangun kebersamaan, sering disebut koalisi antarparpol untuk mengantar pasangan calon presiden dan wapres pada pilpres.

Begitu pemerintahan baru terbentuk, koalisi berlanjut dalam pembentukan kabinet,di mana sejumlah pos kementerian , lembaga dan badan diisi oleh kader – kader parpol sebagai komitmen telah terbangunnya koalisi. Itulah kebersamaan dalam pemerintahan.

Mengapa perlu kebersamaan? Jawabnya jelas. Melalui kebersamaan sedapat mungkin menyamakan pandangan, bukan memperbesar perbedaan. Menyelaraskan konsepsi, bukan adu argumentasi. Menyatukan aspirasi, bukan membuka peluang kontroversi. Berupaya mengedepankan kepentingan publik, bukan memperbanyak hak milik.

Baca Juga: Kopi Pagi: Jangan Tunggu Hari Esok

Yang hendak kami sampaikan, sudah menjadi fitrah manusia untuk hidup berkelompok, bermasyarakat atau hidup dalam kebersamaan. Sehebat apa pun kemampuannya, setinggi apa pun ilmu, pangkat, jabatan dan kedudukan, seluas apa pun hartanya, sebagai manusia akan selalu membutuhkan bantuan orang lain.

Itulah fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang sejak kelahirannya sudah dalam satuan yang terkecil, yakni keluarga. Kemudian tumbuh berkembang dalam kelompok masyarakat, lebih luas lagi bangsa dan negara.

Maknanya hidup bermasyarakat – hidup dalam kebersamaan adalah  sebuah kebutuhan. Ini sejatinya modal utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang jika dikemas sedemikian rupa menjadi sebuah kekuatan besar mengisi kemerdekaan, demi mewujudkan cita – cita negeri kita.

Membangun kebersamaan di era pemerintahan sekarang ini, tak perlu diragukan lagi. Politik merangkul, bukan memukul telah terimplementasi dalam pembentukan kabinet Merah Putih, hingga kemudian dikenal dengan kabinet gemuk.

Baca Juga: Kopi Pagi: Regenerasi Petani Bukanlah Mimpi

Lepas dari segala kontroversi yang menyertai, koalisi baik di eksekutif maupun legislatif, tetap solid menuju dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto. Bahkan, tak dikenal adanya kekuatan oposisi, meski berada di luar pemerintahan, yang ada adalah kekuatan penyeimbang.

Hanya saja realita tak dapat dipungkiri, kebersamaan pada masa perjuangan tentu sangatlah jauh berbeda dengan era sekarang. Begitu pun ketika kita dihadapkan kepada upaya membangun kebersamaan yang di dalamnya terdapat  keberagaman. Beragam dalam tradisi,budaya, etnis dan agama. Sebagai bangsa yang majemuk dan multikultural, kadang dihadapkan pada realitas yang cukup rumit.

Kebersamaan dalam dunia politik boleh jadi tetap solid, tetapi tidak demikian dengan bidang sosial dan ekonomi, terlebih jika sudah menyentuh kebutuhan dasar hidup masyarakat.Belum lagi soal sosial keagamaan dan budaya.

Tak berlebihan jika Bung Karno sendiri sejak awal kemerdekaan telah berpesan kepada pemuda, generasi penerus bangsa lewat pernyataannya “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Baca Juga: Kopi Pagi: Regenerasi Petani Bukanlah Mimpi

Era kini, kita menyaksikan keberagaman masih menjadi embrio pemicu terjadinya konflik, permusuhan dan kebencian satu sama lain. Meski konflik tersebut tidak semata berlatar belakang perbedaan, tetapi dapat menghambat terciptanya kebersamaan.

Belum lagi, mencuatnya perbedaan sikap politik dalam merespons situasi terkini yang disampaikan sejumlah kalangan, termasuk di internal elite politik itu sendiri dapat dimaknai sebagai sinyal yang perlu disikapi secara bijak, cepat dan tepat guna menguatkan kebersamaan. Jika tidak, kebersamaan bisa memudar. Maknanya bersama, tapi tidak dalam kebersmaan seperti yang diharapkan.

Sementara kebersamaan ( bersatu padunya ) seluruh kekuatan sangat dibutuhkan di era sekarang guna menghadapi beragam tantangan, dan kian kompleksnya permasalahan yang harus segera dituntaskan, utamanya di bidang ekonomi.

Melalui kebersamaan, setidaknya hidup lebih ringan, lebih mudah menyelesaikan masalah, menimbulkan kasih sayang dan saling tolong menolong, serta mencegah timbulnya konflik.

Sering dikatakan kebersamaan adalah kunci kekompakan, memperkuat kesatuan dan persatuan serta menciptakan keharmonisan. Dan, masih banyak lagi manfaat dari kebersamaan.

Jika sudah masuk ke dalam rumah yang disebut “kebersamaan “ tadi, dengan sendirinya harus rela melepaskan diri dari beragam latar belakangnya. Tidak lagi bicara soal asal - usulnya dari mana, agama apa, suku mana, kelompok politik mana, dulu tim sukses siapa, mendukung siapa.

Kalau pun pada masa lalu terdapat aspirasi politik yang berbeda, bahkan pernah saling berseberangan, kini wajib dihilangkan. Karena kebersamaan, masa depan menjadi milik bersama, bukan lagi milik golongan atau perorangan. Maka, untuk meraih masa depan sebagaimana dicita- citakan wajib dilakukan bersama – sama dengan penuh kebersamaan. Bersama tanpa prasangka dan saling curiga, seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini..

Kebersamaan tanpa prasangka dapat terwujud jika: Ada komitmen yang jelas, menjunjung tinggi toleransi, menghargai perbedaan, terdapat kepentingan yang sama dan adanya kepercayaan. Tak kalah pentingnya adalah ketulusan dan keikhlasan serta ditopang adanya keteladanan para elite politik dalam merespons situasi.

Ketulusan muncul karena adanya kesadaran bahwa kebersamaan adalah lebih baik ketimbang kesendirian. Bersama menuju sejahtera, ketimbang sendiri, lagi menderita.

Ada pepatah mengatakan: Lebih baik jalan bergandengan tangan di tengah lorong kegelapan, dari pada berjalan sendirian di tengah padang ilalang.

Mari bangun kebersamaan. Bersama tanpa prasangka dan curiga membuat kita bahagia sejahtera.

Filsuf Persia, Abu Hamid Al – Ghazali mengatakan “Hiduplah kamu bersama manusia sebagaimana pohon yang berbuah, mereka melemparinya dengan batu, tetapi ia membalasnya dengan buah.


Berita Terkait


undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Periode Kejar Impian

undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Taat Kontrol Diri

News Update