POSKOTA.CO.ID - “Kebersamaan tanpa prasangka dapat terwujud jika: Ada komitmen yang jelas, menjunjung tinggi toleransi, menghargai perbedaan, terdapat kepentingan yang sama dan adanya kepercayaan. Tak kalah pentingnya adalah ketulusan dan keikhlasan serta ditopang adanya keteladanan para elite politik dalam merespons situasi.” -Harmoko -
Kebersamaan membangun negeri bukan sebatas retorika, tetapi butuh realita dan karya nyata, bukan mengejar citra. Tidak terbantahkan, menyongsong pemerintahan baru sudah dimulai dengan upaya membangun kebersamaan, sering disebut koalisi antarparpol untuk mengantar pasangan calon presiden dan wapres pada pilpres.
Begitu pemerintahan baru terbentuk, koalisi berlanjut dalam pembentukan kabinet,di mana sejumlah pos kementerian , lembaga dan badan diisi oleh kader – kader parpol sebagai komitmen telah terbangunnya koalisi. Itulah kebersamaan dalam pemerintahan.
Mengapa perlu kebersamaan? Jawabnya jelas. Melalui kebersamaan sedapat mungkin menyamakan pandangan, bukan memperbesar perbedaan. Menyelaraskan konsepsi, bukan adu argumentasi. Menyatukan aspirasi, bukan membuka peluang kontroversi. Berupaya mengedepankan kepentingan publik, bukan memperbanyak hak milik.
Baca Juga: Kopi Pagi: Jangan Tunggu Hari Esok
Yang hendak kami sampaikan, sudah menjadi fitrah manusia untuk hidup berkelompok, bermasyarakat atau hidup dalam kebersamaan. Sehebat apa pun kemampuannya, setinggi apa pun ilmu, pangkat, jabatan dan kedudukan, seluas apa pun hartanya, sebagai manusia akan selalu membutuhkan bantuan orang lain.
Itulah fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang sejak kelahirannya sudah dalam satuan yang terkecil, yakni keluarga. Kemudian tumbuh berkembang dalam kelompok masyarakat, lebih luas lagi bangsa dan negara.
Maknanya hidup bermasyarakat – hidup dalam kebersamaan adalah sebuah kebutuhan. Ini sejatinya modal utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang jika dikemas sedemikian rupa menjadi sebuah kekuatan besar mengisi kemerdekaan, demi mewujudkan cita – cita negeri kita.
Membangun kebersamaan di era pemerintahan sekarang ini, tak perlu diragukan lagi. Politik merangkul, bukan memukul telah terimplementasi dalam pembentukan kabinet Merah Putih, hingga kemudian dikenal dengan kabinet gemuk.
Baca Juga: Kopi Pagi: Regenerasi Petani Bukanlah Mimpi
Lepas dari segala kontroversi yang menyertai, koalisi baik di eksekutif maupun legislatif, tetap solid menuju dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto. Bahkan, tak dikenal adanya kekuatan oposisi, meski berada di luar pemerintahan, yang ada adalah kekuatan penyeimbang.
