Kopi Pagi: Bersama Tanpa Prasangka dan Curiga

Senin 22 Jun 2026, 07:00 WIB
Ilustrasi Kopi Pagi. (Sumber: Poskota)
Ilustrasi Kopi Pagi. (Sumber: Poskota)

Hanya saja realita tak dapat dipungkiri, kebersamaan pada masa perjuangan tentu sangatlah jauh berbeda dengan era sekarang. Begitu pun ketika kita dihadapkan kepada upaya membangun kebersamaan yang di dalamnya terdapat  keberagaman. Beragam dalam tradisi,budaya, etnis dan agama. Sebagai bangsa yang majemuk dan multikultural, kadang dihadapkan pada realitas yang cukup rumit.

Kebersamaan dalam dunia politik boleh jadi tetap solid, tetapi tidak demikian dengan bidang sosial dan ekonomi, terlebih jika sudah menyentuh kebutuhan dasar hidup masyarakat.Belum lagi soal sosial keagamaan dan budaya.

Tak berlebihan jika Bung Karno sendiri sejak awal kemerdekaan telah berpesan kepada pemuda, generasi penerus bangsa lewat pernyataannya “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Baca Juga: Kopi Pagi: Regenerasi Petani Bukanlah Mimpi

Era kini, kita menyaksikan keberagaman masih menjadi embrio pemicu terjadinya konflik, permusuhan dan kebencian satu sama lain. Meski konflik tersebut tidak semata berlatar belakang perbedaan, tetapi dapat menghambat terciptanya kebersamaan.

Belum lagi, mencuatnya perbedaan sikap politik dalam merespons situasi terkini yang disampaikan sejumlah kalangan, termasuk di internal elite politik itu sendiri dapat dimaknai sebagai sinyal yang perlu disikapi secara bijak, cepat dan tepat guna menguatkan kebersamaan. Jika tidak, kebersamaan bisa memudar. Maknanya bersama, tapi tidak dalam kebersmaan seperti yang diharapkan.

Sementara kebersamaan ( bersatu padunya ) seluruh kekuatan sangat dibutuhkan di era sekarang guna menghadapi beragam tantangan, dan kian kompleksnya permasalahan yang harus segera dituntaskan, utamanya di bidang ekonomi.

Melalui kebersamaan, setidaknya hidup lebih ringan, lebih mudah menyelesaikan masalah, menimbulkan kasih sayang dan saling tolong menolong, serta mencegah timbulnya konflik.

Sering dikatakan kebersamaan adalah kunci kekompakan, memperkuat kesatuan dan persatuan serta menciptakan keharmonisan. Dan, masih banyak lagi manfaat dari kebersamaan.

Jika sudah masuk ke dalam rumah yang disebut “kebersamaan “ tadi, dengan sendirinya harus rela melepaskan diri dari beragam latar belakangnya. Tidak lagi bicara soal asal - usulnya dari mana, agama apa, suku mana, kelompok politik mana, dulu tim sukses siapa, mendukung siapa.

Kalau pun pada masa lalu terdapat aspirasi politik yang berbeda, bahkan pernah saling berseberangan, kini wajib dihilangkan. Karena kebersamaan, masa depan menjadi milik bersama, bukan lagi milik golongan atau perorangan. Maka, untuk meraih masa depan sebagaimana dicita- citakan wajib dilakukan bersama – sama dengan penuh kebersamaan. Bersama tanpa prasangka dan saling curiga, seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini..

Kebersamaan tanpa prasangka dapat terwujud jika: Ada komitmen yang jelas, menjunjung tinggi toleransi, menghargai perbedaan, terdapat kepentingan yang sama dan adanya kepercayaan. Tak kalah pentingnya adalah ketulusan dan keikhlasan serta ditopang adanya keteladanan para elite politik dalam merespons situasi.


Berita Terkait


undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Periode Kejar Impian

undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Taat Kontrol Diri

News Update