Dalam satu pertemuan biasanya hanya hadir lima hingga sepuluh peserta. Sebagian besar anak-anak, meski tidak jarang orang dewasa ikut bergabung untuk memperbaiki bacaan Al-Qur'an mereka.
Mengajar di Sudan memiliki tantangan tersendiri. Meski masyarakat setempat menggunakan bahasa Arab, Irfan tetap harus menyesuaikan diri dengan dialek amiyah yang digunakan warga Darfur dalam percakapan sehari-hari.
Beruntung, kemampuan bahasa Arab yang dimilikinya mempermudah komunikasi dengan masyarakat.
Menurut Irfan, semangat belajar anak-anak Sudan sangat tinggi. Untuk menambah motivasi mereka, ia sering memberikan hadiah sederhana bagi anak-anak yang berhasil mencapai target hafalan tertentu.
"Kalau dalam satu minggu hafal juz 30, kami kasih hadiah," ujarnya.
Dari sekian banyak anak yang pernah belajar bersamanya, ada satu nama yang masih ia ingat hingga sekarang, yakni Sadik Hasband.
Hubungan keduanya tidak terputus setelah masa tugas berakhir. Hingga kini Irfan masih menjalin komunikasi dengan Sadik yang saat ini menempuh pendidikan di Palembang.
"Bahasa Indonesianya sekarang sudah bagus," katanya sambil tersenyum.
Pengalaman di Sudan juga memperlihatkan kepadanya bagaimana masyarakat hidup dalam berbagai keterbatasan.
Air bersih menjadi salah satu kebutuhan yang sulit diperoleh. Untuk mendapatkan air, pengeboran harus dilakukan hingga kedalaman ratusan meter.
Pada malam hari, aktivitas masyarakat sangat terbatas karena situasi keamanan yang belum sepenuhnya kondusif.
Namun di tengah kondisi tersebut, Irfan melihat satu hal yang tetap tumbuh: semangat untuk belajar dan bertahan hidup.
