Kopi Pagi: Bijak Berucap dan Bersikap

Senin 11 Mei 2026, 11:46 WIB
Kopi Pagi edisi hari ini, Senin, 11 Mei 2026. (Sumber: Poskota)

Kopi Pagi edisi hari ini, Senin, 11 Mei 2026. (Sumber: Poskota)

POSKOTA.CO.ID - “Hendaknya tidak terbawa arus ikut mengkritik hanya karena tak ingin disebut tidak ikut peduli, sementara tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jangan serta merta ikutan menghujat hanya karena ingin dianggap masih bersahabat dengan mereka yang sedang menghujat, padahal belum tahu apakah orang dimaksud harus dihujat,” kata Harmoko.

Lisan bisa menggerakkan, lisan dapat menggelorakan, bisa menyatukan, tapi lisan dapat pula menghancurkan dan mendatangkan permusuhan. Tak sedikit, kawan menjadi lawan hanya karena "ucapan" yang dikeluarkan oleh "lidah yang tak bertulang" itu.

Lisan itu diibaratkan pisau yang jika salah digunakan akan melukai banyak orang

Itulah mengapa sebabnya kita diminta untuk selalu menjaga lisan, terlebih para elite politik dan pejabat publik. Salah ucap otomatis akan menjadi gunjingan publik, apalagi ucapan yang menyakiti hati rakyat.

Baca Juga: Kopi Pagi: Politik Tebar Empati

Kita paham betul, lisan bisa membuat orang bahagia dan menderita. Ucapan bisa membuat orang tertawa dan menangis, tersenyum dan manyun. Ucapan bisa membuat orang naik derajat, pangkat dan jabatan. Tapi bisa juga menjadikan seseorang turun derajat, pangkat dan bahkan kehilangan jabatan.

Tidak dapat dipungkiri ucapan seseorang ada yang dapat membuka dan menutup peluang orang lain. Tidak sedikit pula hanya karena sepotong ucapan membuat orang sakit hati yang berujung dendam sebagai embrio permusuhan dan kekacauan.

Itulah perlunya kesadaran diri untuk senantiasa merenung, menilai, mengkalkulasi untung ruginya terhadap ucapan yang akan disampaikan dan dampak yang ditimbulkan.

Jika dirasa apa yang akan dibicarakan atau diucapkan, tidak mengandung banyak manfaat, lebih baik diam mendengarkan.

Baca Juga: Kopi Pagi: Peduli Nelayan

Itu pula mengapa kita perlu bijak dalam berucap, termasuk ketika mengkritisi orang lain. Jangan melontarkan ucapan yang tidak kita sukai, jika orang lain yang mengucapkannya.

Ciri orang bijak, di antaranya pandai membaca keadaan sehingga mengetahui waktu yang tepat kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Maknanya, tidak sembarangan menilai orang lain meskipun tidak sesuai dengan pendapatnya.

Biasanya orang yang bijaksana lebih mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Tidak egois atau memperdulikan kepentingan orang lain dalam mengambil keputusan.

Rendah hati dan menghargai orang lain. Selalu berusaha menjaga perasaan orang lain, itulah sikap bijak dalam bertutur kata sebagaimana jati diri bangsa kita dengan berpedoman kepada nilai-nilai luhur falsafah bangsa kita.

Setiap warga negara berhak melontarkan pendapat karena demokrasi mengajarkan demikian. Tetapi, etika hendaknya terus mengawalnya agar lisan tetap terjaga. Ini bukan berarti, kita tak boleh menguak fakta yang tersembunyi, terlebih jika untuk kebaikan serta kepentingan bangsa dan negara.

Transparansi harus tetap dibangun dalam meningkatkan kualitas demokrasi, baik bagi sebagai penyampai aspirasi maupun penerima aspirasi. Tak kalah pentingnya adalah kejujuran.

Baca Juga: Kopi Pagi: Lebaran Politik

Namun, adab dan budaya tetapi perlu dikedepankan, agar transparansi terbangun secara harmoni sebagai solusi membangun negeri.

Dengan bersikap bijaksana maka lingkungan menjadi damai dan sejahtera karena tercapainya keseimbangan antara hak dan tanggung jawab. Mempercepat keadilan sosial sebagaimana cita-cita negeri ini didirikan.

Belum lagi bagi diri sendiri, orang bijak akan lebih dihargai, dihormati dan dipercaya.

Memang cukup sulit sekali menjadi orang bijak di tengah era perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini. Di tengah derasnya arus informasi dari segala pelosok negeri kita dan penjuru dunia lewat dunia maya.

Baca Juga: Kopi Pagi: Pembinaan Karakter Pejabat

Bersikap bijak merespons situasi terkini terhadap segala peristiwa yang sedang terjadi, patut menjadi acuan dan panduan.

Hendaknya tidak terbawa arus ikut mengkritik hanya karena tak ingin disebut tidak ikut peduli, sementara tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, seperti dikatakan Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.

Jangan serta merta ikut-ikutan menghujat hanya karena ingin dianggap masih bersahabat dengan mereka yang sedang menghujat, padahal belum tahu apakah orang dimaksud harus dihujat. Mari bijak berucap dan bersikap. (Azisoko)


Berita Terkait


undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Hadirkan Rasa Malu

Kamis 29 Jan 2026, 08:23 WIB
undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Selaraskan Ambang Batas

Senin 02 Feb 2026, 06:27 WIB
undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Daulat Ekonomi Rakyat

Kamis 05 Feb 2026, 09:51 WIB

News Update