Ciri orang bijak, di antaranya pandai membaca keadaan sehingga mengetahui waktu yang tepat kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Maknanya, tidak sembarangan menilai orang lain meskipun tidak sesuai dengan pendapatnya.
Biasanya orang yang bijaksana lebih mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Tidak egois atau memperdulikan kepentingan orang lain dalam mengambil keputusan.
Rendah hati dan menghargai orang lain. Selalu berusaha menjaga perasaan orang lain, itulah sikap bijak dalam bertutur kata sebagaimana jati diri bangsa kita dengan berpedoman kepada nilai-nilai luhur falsafah bangsa kita.
Setiap warga negara berhak melontarkan pendapat karena demokrasi mengajarkan demikian. Tetapi, etika hendaknya terus mengawalnya agar lisan tetap terjaga. Ini bukan berarti, kita tak boleh menguak fakta yang tersembunyi, terlebih jika untuk kebaikan serta kepentingan bangsa dan negara.
Transparansi harus tetap dibangun dalam meningkatkan kualitas demokrasi, baik bagi sebagai penyampai aspirasi maupun penerima aspirasi. Tak kalah pentingnya adalah kejujuran.
Baca Juga: Kopi Pagi: Lebaran Politik
Namun, adab dan budaya tetapi perlu dikedepankan, agar transparansi terbangun secara harmoni sebagai solusi membangun negeri.
Dengan bersikap bijaksana maka lingkungan menjadi damai dan sejahtera karena tercapainya keseimbangan antara hak dan tanggung jawab. Mempercepat keadilan sosial sebagaimana cita-cita negeri ini didirikan.
Belum lagi bagi diri sendiri, orang bijak akan lebih dihargai, dihormati dan dipercaya.
Memang cukup sulit sekali menjadi orang bijak di tengah era perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini. Di tengah derasnya arus informasi dari segala pelosok negeri kita dan penjuru dunia lewat dunia maya.
Baca Juga: Kopi Pagi: Pembinaan Karakter Pejabat
Bersikap bijak merespons situasi terkini terhadap segala peristiwa yang sedang terjadi, patut menjadi acuan dan panduan.
