“Jadi karena ketiga tokoh tadi sampeyan hadir,” tanya Yudi.
“Oh tidak, Saya hadir atas kesadaran untuk menjalin silaturahmi. Tetapi, bahwa ketiga tokoh tadi patut diteladani benar adanya.Ketiga sahabat tadi tiada henti membangun kepedulian dan kebersamaan demi kemaslahatan. Tak hanya waktu, tenaga, pikiran dicurahkan, juga finansial,” jelas mas Bro.
“Lantas ketemu teman – teman lama dong?,” tanya Heri.
“Tidaklah salah silaturahmi membawa keberkahan. Banyak ketemu orang Tegal yang hebat – hebat menjadi pejabat tinggi baik di pemerintahan maupun swasta. Tanpa diduga ketemu mas Fadly Hasan, Direktur Bisnis dan Pemanfaatan Aset PT Transjakarta. Kita sering menyebutnya sebagai teman ngopi juga dengan Master Limbad, ternyata tetangga sebelah rumah di kampung,” urai mas Bro.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Tak Elok, Sudah Bersama, Masih Curiga
“Konon, Pak Mayjen TNI Arif Hartoto tak berkenan tampil di depan memberi sambutan utama,” kata Yudi.
“Beliau sepertinya lebih memberi kesempatan yang lain untuk tampil di panggung. Sementara dirinya tampil layaknya undangan lainnya. Itulah gambaran pemimpin yang merakyat, rendah hati,” kata mas Bro.
“Jadi ingat konsep Lau Tzu. Pemimpin yang baik berada di depan saat bahaya,dan berada di belakang saat perayaan. Dapat dimaknai, pemimpin maju paling depan untuk menanggung segala risiko, mundur ke belakang (tidak menonjolkan diri) saat merayakan keberhasilan,” urai Heri.
