Oleh : Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID – Istilah “war” tak hanya digunakan dalam konflik bersenjata seperti perang AS- Israel vs Iran, yang kini dalam proses gencatan senjata setelah berlangsung perang fisik lebih dari sebulan.
War juga acap digunakan ketika berebut tiket konser, membeli barang yang sangat dibutuhkan, tetapi kuota terbatas. Boleh juga war tiket gratis.
Kini sedang ramai dibahas wacana war tiket haji. Maksudnya skema pemberangkatan haji (naik haji) tak perlu menunggu antrean, tetapi memanfaatkan war tiket tadi.
Tujuannya untuk memangkas panjang anteran. Seperti diberitakan, war tiket haji tersebut dimungkinkan, jika terdapat kuota tambahan yang cukup besar dari Pemerintah Arab Saudi. Bukan kuota reguler yang dikeluarkan setiap tahun.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Merger, Tak Sebatas Koalisi
Kuota tambahan itulah yang diperebutkan melalui skema war tiket. Syaratnya calon jemaah harus membayar penuh biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) berdasarkan perhitungan riil tanpa subsidi dari dana pengelolaan keuangan haji.
Sementara jemaah yang tidak ingin memanfaatkan peluang ini, tetap mengikuti jalur antrean dengan kuota reguler dengan biaya subsidi.
“Berarti untuk mendapatkan war tiket cukup mahal ya , bisa di atas seratus juta,” kata bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
“Logikanya begitu karena menggunakan perhitungan riil, tanpa subsidi. Misalnya tarif pesawat tiba –tiba melonjak akibat dampak kenaikan harga BBM dunia, tambahan tarif akan ditanggung oleh calon jemaah,” jelas Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Bagaikan Jalan Baru Menuju Korupsi
