Sikap boleh terus konsisten, kepentingan bisa berbeda, tetapi ujung jalan tidak boleh berseberangan, tujuan akhir harus sama, yakni kesejahteraan dan kemakmuran rakyat adalah di atas segalanya sebagaimana tujuan awal dan cita-cita mendirikan negeri ini.
Saling memaafkan di momen lebaran ini hendaknya menjadi awal melupakan kesalahan dan perbedaan politik masa lalu. Kita meyakini, segala persoalan sejatinya bisa diawali penyelesaiannya dengan kata maaf dan saling memaafkan. Mulai dari lingkup terkecil di lingkungan keluarga, RT /RW, kelurahan, kantor pemda hingga istana.
Dalam kehidupan bermasyarakat, saling memaafkan adalah awal dari adanya sifat kekeluargaan, untuk membangun kerekatan sosial. Bukan sebaliknya mencari-cari kesalahan orang yang dapat memicu perselisihan, seperti dikatakan Harmoko lewat kolom “Kopi Pagi”.
Lebih-lebih dalam kehidupan politik yang penuh dinamika. Dikenal istilah "tak ada lawan abadi" menjadi "lawan dan rival" tahun lalu, tetapi hanya dalam hitungan hari, bahkan bisa juga menit, bisa berubah menjadi "kawan".
Itulah kehidupan yang serba neka dan penuh dinamika yang seyogyanya tak ada lagi dendam, apalagi "dendam politik".
Baca Juga: Kopi Pagi: Taat Kontrol Diri
Ingat, di balik kesalahan, pasti terselip kebaikan. Kadang kita sering lupa dengan kebaikan seseorang hanya karena satu kesalahan. Seakan satu kesalahan itu menghapus ribuan kebaikan yang pernah dilakukan.
Dalam pepatah Jawa juga sering diajarkan "yen siro dibeciki liyan iku tulisen ing watu,supoyo ora ilang lan tansah kelingan" (jika kamu menerima kebaikan dari orang lain tulislah di batu, supaya tidak pernah hilang dari ingatan).
Sebaliknya "yen siro gawe kabecikan marang liyan iku tulisen ing lemah supoyo enggal ilang lan ora kelingan" yang berarti jika kamu berbuat baik kepada orang lain tulislah di tanah supaya lekas ilang dari ingatan.
Ingatlah kebaikannya, lupakan kesalahannya. Ajaran ini sesuai dengan nilai dan budaya bangsa kita sebagaimana yang terkandung dalam butir-butir Pancasila, khususnya sila ke-2 Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Baca Juga: Kopi Pagi: Tak Selamanya Diam Itu Emas
Lebaran dan halal bihalal di bulan Syawal ini bisa dijadikan momen untuk mengkomunikasikan terhadap pelaksanaan program pemerintah, utamanya yang bisa terdampak akibat situasi politik global.
