POSKOTA.CO.ID - “Dalam kehidupan bermasyarakat, saling memaafkan adalah awal dari adanya sifat kekeluargaan, untuk membangun kerekatan sosial. Bukan sebaliknya mencari-cari kesalahan orang yang dapat memicu perselisihan. Lebih-lebih dalam kehidupan politik yang penuh dinamika,” kata Harmoko.
Bulan puasa umumnya terdapat istilah Safari Ramadhan, berlanjut dengan safari lebaran, begitu lebaran datang. Pascalebaran, dikemas dengan acara halal bihalal, dari ketika ketiga kegiatan tersebut, terdapat satu makna, yakni merajut silaturahmi sosial demi memperkokoh kebersamaan, persatuan dan kesatuan.
Tak berlebihan, sekiranya pada ketiga momen tersebut sering digunakan sebagai ajang membangun komunikasi oleh para elite politik, mulai dari petinggi parpol hingga pejabat publik dengan berkunjung di saat lebaran. Pada bulan Syawal ini memantapkan soliditas dengan menggelar halal bihalal.
Dalam dunia politik, halal bihalal bukanlah hal baru. Presiden Soekarno sudah menggelar halal bihalal di Istana dengan mengundang semua pimpinan parpol dan tokoh bangsa dari beragam kalangan. Tujuannya membangun rekonsiliasi di antara para elite politik, meredakan ketegangan dan safari politik guna memperkuat persatuan nasional.
Baca Juga: Kopi Pagi: Pembinaan Karakter Pejabat
Boleh disebut itulah “lebaran politik” yang berakar dari konsep halal bihalal yang diinisiasi KH Wahab Chasbullah kepada Bung Karno pada tahun 1948 untuk menyatukan faksi yang berselisih saat itu.
Tradisi ini terus berlanjut hingga sekarang ini, tak hanya di kalangan elite politik, hingga tingkat RT/RW dengan menggelar halal bihalal di bulan Syawal. Ini tradisi positif, yang tak hanya perlu kita rawat dan jaga, tetapi dikembangkan dengan beragam pola dan bentuk, terus diupdate di era kekinian sesuai dengan situasinya.
Jika kita cermati, apa pun bentuk safari lebaran hingga gelaran halal bihalal tak hanya menjadi ajang saling maaf memaafkan, tetapi di dalamnya terkandung tujuan mulia membangun kerukunan dan kegotongroyongan tanpa membedakan latar belakang status sosial ekonominya.
Yang perlu dikemas kemudian, janganlah safari lebaran dan halal bihalal menjadi ajang formalitas tahunan, tak hanya menjadi ritual keagamaan semata, tetapi diimplementasikan melalui aksi nyata.
Baca Juga: Kopi Pagi: Mandiri Energi Kian Mendesak
Ini harus dimulai dari elite politik itu sendiri dengan memberikan keteladanan. Jangan sampai di tingkat RT/RW terbangun kerukunan dan keharmonisan secara nyata, tetapi di level para elite masih terjadi perseteruan karena lebih mengedepankan kepentingan dan sikap politiknya.
