Filipina juga membuka opsi untuk menambah impor batu bara dari Indonesia sebagai salah satu pemasok utama. Kebijakan ini dipandang sebagai solusi cepat di tengah lonjakan harga gas alam cair (LNG) di pasar internasional.
“Kami akan melihat seberapa besar kapasitas yang bisa ditingkatkan. Impor batu bara dari Indonesia juga menjadi opsi,” ujar Garin.
Kewenangan Khusus Selama Status Darurat
Melalui penetapan darurat energi, pemerintah memberikan kewenangan tambahan kepada Kementerian Energi untuk menjaga stabilitas pasokan. Salah satu langkah yang diambil adalah pemberian uang muka hingga 15 persen guna mengamankan kontrak pasokan bahan bakar.
Selain itu, pemerintah juga berwenang mengambil tindakan tegas terhadap praktik penimbunan dan spekulasi harga energi yang dapat merugikan masyarakat.
Langkah lain yang disiapkan meliputi pemberian subsidi transportasi umum, serta kemungkinan penurunan biaya tol dan tarif penerbangan guna menekan beban ekonomi.
Baca Juga: Viral Video Netanyahu Disebut Punya Enam Jari, Rumor Kematian Beredar di Tengah Konflik
Ketergantungan Energi Jadi Tantangan Utama
Filipina dikenal sebagai salah satu negara dengan biaya energi tertinggi di Asia. Ketergantungan besar terhadap impor bahan bakar membuat negara ini sangat rentan terhadap gejolak global.
Saat ini, sekitar 60 persen kebutuhan listrik nasional masih bergantung pada batu bara. Di sisi lain, cadangan gas domestik seperti Malampaya diperkirakan akan terus menurun dalam beberapa tahun ke depan.
Kondisi tersebut memaksa pemerintah untuk bergerak cepat dan mengambil langkah strategis agar potensi krisis energi tidak berdampak lebih luas terhadap perekonomian nasional.
