POSKOTA.CO.ID - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat seiring konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Di tengah situasi tersebut, perhatian dunia tertuju pada Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi global.
Meski sempat muncul kabar penutupan jalur tersebut, pemerintah Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap dapat dilalui oleh kapal-kapal dari negara yang tidak terlibat konflik. Namun, akses tersebut diberikan dengan sejumlah syarat dan pengawasan ketat dari militer.
Langkah ini menjadi sinyal bahwa Iran tetap berupaya menjaga stabilitas arus perdagangan energi, meskipun tekanan politik dan militer terus meningkat di kawasan.
Baca Juga: Kabar Netanyahu Meninggal Akibat Serangan Udara Iran Viral, Benarkah?
Penegasan Iran soal Akses Selat Hormuz

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan bahwa akses Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditutup. Iran hanya membatasi kapal yang dianggap berasal dari pihak musuh atau pendukung agresi terhadap negaranya.
"Kapal-kapal milik negara-negara yang tidak terlibat dalam perang telah diizinkan untuk melintasi Selat Hormuz dengan koordinasi dan izin dari militer Iran," jelas Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei dalam pernyataan yang dikutip media lokal Teheran.
Kebijakan ini menunjukkan pendekatan selektif Iran dalam mengontrol jalur pelayaran strategis, tanpa sepenuhnya menghentikan aktivitas ekonomi global yang bergantung pada jalur tersebut.
Baca Juga: Dua Kapal Pertamina Berhasil Keluar dari Area Konflik Iran–AS–Israel, Ini Kronologinya
Instruksi Pemimpin Tertinggi dan Syarat Transaksi Yuan
Sementara itu, pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menginstruksikan agar Selat Hormuz tetap diblokade bagi kapal yang dikategorikan sebagai musuh. Ia menekankan pentingnya memanfaatkan jalur tersebut sebagai alat tekanan strategis.
"Pengungkit untuk memblokir Selat Hormuz harus benar-benar digunakan," kata Khamenei, menegaskan sikap tegas pemerintahannya di tengah situasi kritis ini.
Di sisi lain, Iran juga dikabarkan menerapkan kebijakan baru terkait transaksi minyak. Kapal tanker yang ingin melintas di Selat Hormuz diwajibkan melakukan transaksi menggunakan mata uang yuan.
