Obrolan Warteg: Bukan Zamannya Mengadu Domba

Rabu 18 Mar 2026, 05:00 WIB
Obrolan Warteg: Bukan Zamannya Mengadu Domba, edisi Rabu, 18 Maret 2026. (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)

Obrolan Warteg: Bukan Zamannya Mengadu Domba, edisi Rabu, 18 Maret 2026. (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)

Oleh: Joko Lestari

POSKOTA.CO.ID - Ada pepatah mengatakan ‘Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh’. Makna pepatah itu bisa cukup beragam,tetapi intinya bahwa persatuan itu akan membuahkan kekuatan, sedangkan perceraian akan mendatangkan keruntuhan.

Pepatah ini merupakan seruan moral untuk senantiasa dapat bekerja sama, bergotong royong dalam mengatasi segala macam tantangan. Dengan bekerja sama menyelesaikan segala persoalan, tantangan terasa semakin ringan, hasilnya lebih maksimal.

“Pepatah ini merupakan ajakan untuk terus membangun persatuan di tengah keberagaman, terlebih kian meruncingnya perbedaan dalam menyikapi keadaan,” ujar bung Heri mengawali obrolan wareg bersama sohibnya,mas Bro dan bang Yudi.

“Pepatah ini bagus, tapi teman kita kadang sering diplesetkan: Bersatu kita teguh, bercerai kawin lagi,” kata Yudi.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Masjid Tempat Singgah Para Pemudik

“Itu pepatah untuk dirinya, mungkin pengalaman pribadinya, bukan untuk kita. Kita merujuk yang umum saja, bercerai kita runtuh,” jawab Heri.

“Dalam pepatah berbahasa Jawa juga dikenal : Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah. Makna filosofinya sama bahwa kerukunan akan membawa kepada kekuatan dan keharmonisan, sedangkan perseteruan, perpecahan akan mendatangkan kehancuran dan kekacauan,” urai mas Bro.

“Nah, lantas bagaimana membina kerukunan agar negara kita semakin kuat dan santosa?,” tanya Yudi.

“Kalau dalam dunia politik, kita kenal politik merangkul, bukan memukul. Atraksi politik yang membangun persahabatan-pertemanan, bukan permusuhan,”kata mas Bro.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Terasa Aneh, Tapi Nyata Adanya

“Perbedaan sikap politik adalah keniscayaan, tetapi bukan berarti bermusuhan, Lawan politik bukanlah musuh, tetapi mitra dalam berkontestasi. Ibarat pertandingan bola, lawan tanding adalah teman berkompetisi untuk meraih kemenangan, bukan musuh yang yang harus dibunuh,” urai Heri.

“Karenanya selesai tanding, baik menang maupun kalah saling merangkul, bukan lantas main pukul,” tambah Yudi yang hobi sepakbola.

“Jadi gunakan politik persatuan, bukan politik adu domba kayak zaman penjajahan saja. Sekarang bukan zamannya mengadu domba ,” ujar mas Bro.

“Tapi, kadang masih ada yang berusaha mengadu domba antara kelompok yang satu dengan yang lain. Antara yang sependapat-sepakat dengan yang tidak sepakat dengan narasi-narasi penuh plesetan. Isu dibuat seolah fakta adanya,” urai Heri.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Anak, Cucu, hingga Cicit Perusahaan

“Di era sekarang, tidak sulit menyebarkan gambar hasil editan, hasil manipulasi digital dengan menggunakan teknologi kecerdasan buatan,” kata Yudi.

“Kita mesti hati-hati, terlebih terhadap gambar hasil rekayasa digital yang disebarkan dengan tujuan untuk menyerang dan  mencemarkan nama baik individu dan institusi tertentu. Ini bagian dari politik adu domba,”jelas mas Bro. 


Berita Terkait


News Update