JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan fasilitas Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPALD) di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, pada Jumat, 13 Maret 2026. Peresmian ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam meningkatkan pengelolaan limbah rumah tangga sekaligus menjaga kualitas lingkungan laut di wilayah kepulauan.
Pramono menyampaikan bahwa setelah meninjau langsung fasilitas tersebut, ia menilai kualitas sistem pengolahan limbah yang dibangun memiliki standar yang baik dan mampu mendukung kebutuhan masyarakat setempat.
“Saya meresmikan sarana Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPALD) yang setelah saya lihat langsung kualitasnya sangat baik,” ujar Pramono saat berada di Kepulauan Seribu.
Kapasitas Sistem Ditingkatkan Seiring Pertumbuhan Penduduk
Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum menjelaskan bahwa pembangunan dan peningkatan kapasitas sistem pengolahan limbah ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan pertumbuhan jumlah penduduk di Pulau Pramuka.
Baca Juga: Jakarta Hijab Fest 2026 Digelar di Tanah Abang, Pramono Anung Dorong Kebangkitan UMKM Fesyen Muslim
Saat ini, jumlah penduduk di pulau tersebut tercatat sekitar 2.024 jiwa.
Menurut Ika, sebelumnya pengolahan limbah domestik di Pulau Pramuka telah dibagi ke dalam beberapa zona pengelolaan. Pemprov DKI Jakarta telah membangun lima sistem SPALD-T (Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat) di masing-masing zonasi.
“Awalnya kami sudah membangun lima zonasi di lokasi ini, yaitu SPALD-T pada zonasi 1, 2, 3, 4, dan 5,” jelas Ika.
Namun, seiring meningkatnya jumlah penduduk, kapasitas pengolahan limbah tersebut dinilai perlu diperluas agar lebih optimal. Karena itu, lima zonasi yang sebelumnya terpisah kini digabung menjadi satu sistem yang lebih besar.
Baca Juga: Pramono Anung Pastikan Jakarta Masih Bebas Campak, Waspadai Kasus di Daerah Penyangga
Dengan pengembangan ini, kapasitas pengolahan limbah yang sebelumnya sekitar 195 meter kubik per hari kini meningkat menjadi 400 meter kubik per hari.
Limbah Rumah Tangga Dialirkan Melalui Jaringan Pipa
Ika menjelaskan bahwa seluruh limbah domestik dari rumah warga akan dialirkan melalui jaringan pipa yang berada di bawah trotoar menuju instalasi pengolahan limbah.
Dari jaringan tersebut, limbah kemudian masuk ke sistem pembagi dan diteruskan ke delapan tangki pengolahan yang berfungsi memproses limbah sebelum dilepas kembali ke lingkungan.
“Air limbah dari rumah warga masuk ke saluran yang berada di bawah trotoar, kemudian dialirkan ke pembagi dan masuk ke delapan tangki untuk dikelola,” kata Ika.
Baca Juga: Pramono Imbau Pengusaha Abaikan Ormas Peminta THR
Pembangunan fasilitas SPALD ini bertujuan utama untuk mencegah pencemaran laut akibat limbah domestik yang dibuang langsung tanpa pengolahan.
Melalui sistem ini, limbah rumah tangga warga akan diproses terlebih dahulu sehingga air yang dilepaskan ke laut telah melalui proses sterilisasi.
“Tujuannya agar limbah domestik tidak langsung mencemari laut. Air limbah diolah terlebih dahulu hingga steril sebelum dilepas ke lingkungan,” ujarnya.
Pemprov DKI Bangun 21 SPALD di 10 Pulau Berpenduduk
Ika menambahkan, hingga saat ini Pemprov DKI Jakarta telah membangun sekitar 21 fasilitas SPALD di 10 pulau berpenduduk di wilayah Kepulauan Seribu.
Baca Juga: Hujan Ekstrem Picu Banjir Jakarta, Pramono Anung Andalkan 1.200 Pompa Pengendali
Pengembangan sistem tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk menjaga kualitas lingkungan sekaligus memperbaiki sistem sanitasi di wilayah kepulauan.
“Kami telah membangun sekitar 21 SPALD-T di 10 pulau berpenduduk. Prinsipnya, baik pengelolaan air bersih, air limbah, maupun pengendalian banjir tetap kami kelola,” jelasnya.
Ia berharap masyarakat dapat memanfaatkan fasilitas ini dengan baik serta meningkatkan kesadaran dalam menjaga kebersihan lingkungan.
“Harapannya warga tetap memanfaatkan sistem ini, tidak membuang sampah sembarangan, dan tidak lagi membuang limbah domestik langsung ke laut,” tambah Ika.
Baca Juga: Longsor Sampah Bantargebang Tewaskan 4 Orang, Pramono Anung Ungkap Pemicu Utamanya
Fasilitas pengolahan limbah tersebut menggunakan metode proses biologis, yaitu melalui tahapan aerob dan anaerobyang dibantu oleh peralatan seperti blower.
Proses ini memungkinkan limbah domestik diolah secara optimal sebelum air hasil pengolahan dilepas kembali ke lingkungan.
Penyediaan Air Bersih Didukung Teknologi RO
Sementara itu, Kepala Suku Dinas SDA Kepulauan Seribu Mustajab Mustaqim mengatakan bahwa kebutuhan air bersih di 10 pulau berpenduduk saat ini telah didukung oleh teknologi pengolahan air modern.
Penyediaan air bersih menggunakan sistem Sea Water Reverse Osmosis (SP-RO) yang memanfaatkan air laut serta Brackish Water Reverse Osmosis (BW-RO) yang memanfaatkan air tanah.
Baca Juga: 6 Rumah Kontrakan Rusak di Tebet Akibat Longsor, Pramono Sebut Bukan karena Normalisasi Ciliwung
Menurut Mustajab, pengelolaan fasilitas tersebut kini berada di bawah tanggung jawab PAM Jaya.
“Untuk penyediaan air bersih di 10 pulau sudah tersedia SP-RO dan BW-RO. SP-RO menggunakan air laut sebagai sumber air baku, sedangkan BW-RO menggunakan air tanah,” ujar Mustajab.
“Sistem ini memerlukan pemeliharaan yang cukup kompleks agar tetap berfungsi dengan baik dan tidak mengalami kerusakan,” sambungnya. (cr-4).
