Ika menjelaskan bahwa seluruh limbah domestik dari rumah warga akan dialirkan melalui jaringan pipa yang berada di bawah trotoar menuju instalasi pengolahan limbah.
Dari jaringan tersebut, limbah kemudian masuk ke sistem pembagi dan diteruskan ke delapan tangki pengolahan yang berfungsi memproses limbah sebelum dilepas kembali ke lingkungan.
“Air limbah dari rumah warga masuk ke saluran yang berada di bawah trotoar, kemudian dialirkan ke pembagi dan masuk ke delapan tangki untuk dikelola,” kata Ika.
Baca Juga: Pramono Imbau Pengusaha Abaikan Ormas Peminta THR
Pembangunan fasilitas SPALD ini bertujuan utama untuk mencegah pencemaran laut akibat limbah domestik yang dibuang langsung tanpa pengolahan.
Melalui sistem ini, limbah rumah tangga warga akan diproses terlebih dahulu sehingga air yang dilepaskan ke laut telah melalui proses sterilisasi.
“Tujuannya agar limbah domestik tidak langsung mencemari laut. Air limbah diolah terlebih dahulu hingga steril sebelum dilepas ke lingkungan,” ujarnya.
Pemprov DKI Bangun 21 SPALD di 10 Pulau Berpenduduk
Ika menambahkan, hingga saat ini Pemprov DKI Jakarta telah membangun sekitar 21 fasilitas SPALD di 10 pulau berpenduduk di wilayah Kepulauan Seribu.
Baca Juga: Hujan Ekstrem Picu Banjir Jakarta, Pramono Anung Andalkan 1.200 Pompa Pengendali
Pengembangan sistem tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk menjaga kualitas lingkungan sekaligus memperbaiki sistem sanitasi di wilayah kepulauan.
“Kami telah membangun sekitar 21 SPALD-T di 10 pulau berpenduduk. Prinsipnya, baik pengelolaan air bersih, air limbah, maupun pengendalian banjir tetap kami kelola,” jelasnya.
Ia berharap masyarakat dapat memanfaatkan fasilitas ini dengan baik serta meningkatkan kesadaran dalam menjaga kebersihan lingkungan.
