Sikap toleran dapat kita maknai taat terhadap norma sosial, norma keberagaman, termasuk dalam menyikapi geopolitik yang tengah terjadi di kawasan Timur Tengah.
Sikap tenggang rasa dapat pula diterapkan di tengah meningkatnya beragam kebutuhan jelang lebaran. Tidak berupaya monopoli, terlebih menumpuk barang, menaikkan harga secara berlebihan sebagai aji mumpung, bagian dari upaya mengembangkan sikap tenggang rasa bahwa orang lain memiliki kebutuhan yang sama dengan dirinya.
Sikap tidak semena-mena karena merasa dirinya memiliki kemampuan berlebih lantas memborong dan menumpuk barang kebutuhan pokok yang dapat merugikan orang lain.
Saling menenggang hendaknya juga diterapkan saat perjalanan mudik dan balik lebaran. Ciptakan mudik sebagai perjalanan penuh kebahagiaan bersilaturahmi dengan orangtua, keluarga dan kerabat dekat di kampung halaman.
Toleran berarti menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan, meski tak sesuai dengan keinginan hati nurani. Ini berarti tuntutan untuk mampu mengendalikan diri dengan mengendapkan ego pribadi.
Baca Juga: Kopi Pagi: Merajut Kebersamaan (3)
Itulah mengapa, selain saling menenggang juga dituntut adanya kesabaran.
Dengan bersabar sejatinya kita dituntut mengendalikan diri untuk tidak cepat menyerah terhadap keadaan. Dengan bersabar, akan membawa kita menuju sebuah kesuksesan, seperti dikatakan Harmoko dalam kolom Kopi Pagi edisi hari ini, Senin, 9 Maret 2026.
Tanpa bersabar, akan membuat seseorang cepat berputus asa sehingga takkan mampu menyelesaikan persoalan, lebih-lebih di tengah situasi yang semakin penuh dengan beragam tantangan.
Diyakini, dengan bersabar dapat mengubah tantangan menjadi peluang yang terbuka lebar menuju kemajuan.
Baca Juga: Kopi Pagi: Merajut Kebersamaan (1)
Jika seseorang sudah berputus asa, sudah terintang jalan bagaimana mampu bergerak menuju sebuah pulau impian.
