Baca Juga: Konflik Timur Tengah Kian Memanas, Menko Zulhas Tegaskan Stok Pangan Indonesia Tetap Aman
Indonesia Rentan Terhadap Gejolak Ekonomi Global
Yudhistira juga menilai bahwa dampak konflik geopolitik akan semakin terasa bagi negara dengan tingkat keterbukaan ekonomi tinggi. Dalam hal ini, Indonesia termasuk dalam kategori small open economy yang sangat dipengaruhi dinamika ekonomi global.
Ketergantungan pada impor energi serta hubungan perdagangan dengan berbagai negara besar membuat perekonomian Indonesia rentan terhadap guncangan eksternal. Selain memicu inflasi, kondisi tersebut juga dapat memberi tekanan pada nilai tukar rupiah serta stabilitas perdagangan nasional.
"Indonesia adalah small open economy country yang sangat bergantung pada kondisi ekonomi global sehingga gejolak geopolitik seperti ini akan cepat memengaruhi inflasi dan nilai tukar," katanya.
Penutupan Selat Hormuz Ancaman Serius bagi Pasokan Energi
Sementara itu, Dr. Rachmawan Budiarto dari Pusat Studi Energi UGM menyoroti potensi dampak konflik terhadap ketahanan energi dunia. Menurutnya, Selat Hormuz merupakan jalur penting yang dilalui sebagian besar distribusi minyak global.
Gangguan terhadap jalur tersebut dapat memengaruhi arus pelayaran energi internasional dan memicu ketidakpastian pasokan minyak.
Rachmawan menjelaskan bahwa situasi keamanan di kawasan tersebut bahkan membuat ratusan kapal tanker harus menunggu sebelum melanjutkan perjalanan. “Ketika Selat Hormuz terganggu, ratusan kapal tanker harus menunggu dan hal ini langsung menimbulkan risiko terhadap ketersediaan energi global,” ujarnya.
Indonesia Perlu Perkuat Ketahanan Energi
Ia menilai kondisi tersebut menjadi pengingat bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Ketergantungan pada impor energi membuat Indonesia berpotensi terdampak besar apabila terjadi gangguan pada rantai pasokan global.
Dalam jangka pendek, pemerintah dinilai perlu melakukan diversifikasi sumber energi serta memperkuat cadangan strategis untuk mengantisipasi potensi krisis energi.
Selain itu, percepatan pengembangan energi alternatif juga dinilai penting guna meningkatkan kemandirian energi nasional di masa depan. “Menyerahkan pasokan energi kepada negara lain itu seperti menyerahkan leher kita kepada orang lain,” tegasnya.
Pemerintah dinilai perlu menyiapkan langkah antisipatif agar potensi dampak dari lonjakan harga minyak, tekanan inflasi, hingga gangguan pasokan energi global tidak mengganggu stabilitas perekonomian dan ketahanan energi dalam negeri.
