TEBET, POSKOTA.CO.ID - Puluhan rumah warga di Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, dilaporkan berada dalam kondisi rawan longsor karena berdiri persis di bantaran Kali Ciliwung. Sebagian bangunan bahkan berada di tepi jurang sehingga meningkatkan risiko longsor, terutama saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut.
Berdasarkan pantauan di lokasi, tepatnya di RT 06 RW 08 Jalan X, rumah-rumah warga hanya dipisahkan pagar sederhana dari tepi kali.
Kondisi ini membuat bangunan terlihat sangat rentan, terutama saat debit air meningkat atau tanah mengalami pengikisan.
Ketua RT 06 RW 08, Irmawati, mengatakan bahwa berdasarkan pendataan yang telah dilakukan, terdapat sekitar 55 bidang rumah warga yang berada tepat di pinggir jurang atau bantaran kali.
Baca Juga: 6 Rumah Kontrakan Hancur Akibat Longsor di Tebet Jaksel, BPBD Lakukan Penanganan
“Kalau khusus di RT 06 itu ada sekitar 55 bidang yang rencananya akan dibebaskan,” ujar Irmawati saat ditemui pada Sabtu, 7 Maret 2026.
Dari jumlah tersebut, sekitar 15 rumah berada di area paling dekat dengan aliran Kali Ciliwung dan menjadi prioritas rencana pembebasan lahan.
“Untuk yang benar-benar di pinggir kali itu ada sekitar 15 rumah yang rencananya akan dibebaskan,” tambahnya.
Warga Sudah Lama Didata, Belum Ada Kepastian Eksekusi

Irmawati menjelaskan bahwa rencana pembebasan lahan sebenarnya sudah lama dibahas dan warga juga telah melalui proses pendataan. Namun hingga kini belum ada kepastian kapan realisasi atau eksekusi pembebasan tersebut dilakukan.
Menurutnya, isu penggusuran atau relokasi sudah berulang kali muncul setiap pergantian kepala daerah, tetapi belum pernah benar-benar direalisasikan.
“Kalau soal pembebasan lahan atau penggusuran itu sudah lama. Setiap pergantian gubernur pasti kami dengar lagi,” ujarnya.
“Namun sampai saat ini belum ada tindak lanjut dari pemerintah daerah. Baru sebatas sosialisasi awal dan pendataan saja,” lanjut Irmawati.
Baca Juga: Dompet Dhuafa dan Persib Hibur Penyintas Longsor Pasirlangu, Bawa Bantuan dan Semangat Baru
Enam Rumah Kontrakan Rusak Akibat Longsor
Sebelumnya, pada Jumat pagi, 6 Maret 2026, tanah longsor terjadi di kawasan tersebut dan merusak enam bangunan rumah kontrakan.
Salah satu penghuni kontrakan, Istiqomah (35), mengatakan peristiwa longsor terjadi sekitar pukul 10.00 WIB ketika wilayah itu diguyur hujan deras.
Ia mengungkapkan bahwa tanda-tanda longsor sebenarnya sudah terlihat sejak sekitar sepekan sebelumnya. Retakan mulai muncul di area jalan dan bagian dapur bangunan kontrakan.
“Seminggu sebelum longsor memang sudah ada retakan, bahkan retakannya terlihat sampai ke jalan,” kata Istiqomah saat ditemui di lokasi, Sabtu, 7 Maret 2026.
Baca Juga: 34 KK Korban Longsor Cisarua Masih Bertahan di Pengungsian Menunggu Relokasi
Menurutnya, kondisi tanah di lokasi tersebut memang cukup lembek karena terdapat saluran air warga yang diduga mengalami rembesan. Kombinasi tanah yang labil dan curah hujan tinggi diduga menjadi penyebab utama longsor.
“Di situ ada saluran air warga, mungkin ada rembesan juga. Tanahnya jadi lembek, lalu longsor saat hujan deras,” ujarnya.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Istiqomah menyebut rumah kontrakan itu sudah dikosongkan terlebih dahulu setelah muncul retakan pada bangunan.
“Pas kejadian saya memang tidak ada di rumah. Rumahnya sudah sengaja kami kosongkan karena retaknya semakin besar,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa sebelumnya dirinya bersama keluarga tinggal di kontrakan tersebut yang masih merupakan milik orang tuanya.
Terkait rencana pembebasan lahan di bantaran Kali Ciliwung, Istiqomah mengaku tidak keberatan jika pemerintah melakukan relokasi. Namun ia berharap warga mendapatkan kompensasi yang layak.
“Harapannya ada ganti untung saja. Kalau bisa nilainya di atas harga NJOP,” katanya.
