“Kalau soal pembebasan lahan atau penggusuran itu sudah lama. Setiap pergantian gubernur pasti kami dengar lagi,” ujarnya.
“Namun sampai saat ini belum ada tindak lanjut dari pemerintah daerah. Baru sebatas sosialisasi awal dan pendataan saja,” lanjut Irmawati.
Baca Juga: Dompet Dhuafa dan Persib Hibur Penyintas Longsor Pasirlangu, Bawa Bantuan dan Semangat Baru
Enam Rumah Kontrakan Rusak Akibat Longsor
Sebelumnya, pada Jumat pagi, 6 Maret 2026, tanah longsor terjadi di kawasan tersebut dan merusak enam bangunan rumah kontrakan.
Salah satu penghuni kontrakan, Istiqomah (35), mengatakan peristiwa longsor terjadi sekitar pukul 10.00 WIB ketika wilayah itu diguyur hujan deras.
Ia mengungkapkan bahwa tanda-tanda longsor sebenarnya sudah terlihat sejak sekitar sepekan sebelumnya. Retakan mulai muncul di area jalan dan bagian dapur bangunan kontrakan.
“Seminggu sebelum longsor memang sudah ada retakan, bahkan retakannya terlihat sampai ke jalan,” kata Istiqomah saat ditemui di lokasi, Sabtu, 7 Maret 2026.
Baca Juga: 34 KK Korban Longsor Cisarua Masih Bertahan di Pengungsian Menunggu Relokasi
Menurutnya, kondisi tanah di lokasi tersebut memang cukup lembek karena terdapat saluran air warga yang diduga mengalami rembesan. Kombinasi tanah yang labil dan curah hujan tinggi diduga menjadi penyebab utama longsor.
“Di situ ada saluran air warga, mungkin ada rembesan juga. Tanahnya jadi lembek, lalu longsor saat hujan deras,” ujarnya.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Istiqomah menyebut rumah kontrakan itu sudah dikosongkan terlebih dahulu setelah muncul retakan pada bangunan.
“Pas kejadian saya memang tidak ada di rumah. Rumahnya sudah sengaja kami kosongkan karena retaknya semakin besar,” jelasnya.
