POSKOTA.CO.ID - Tanggal 4 Maret 2026 di pertengahan bulan suci Ramadan, lonjakan harga cabai di wilayah Jakarta dan sekitarnya kian mengkhawatirkan.
Dilansir dari katadata, berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok Kemendag pada Selasa (3/3/2026) pukul 18.01 WIB, dari total 16 komoditas tercatat lima mengalami kenaikan harga, sementara satu lainnya justru menurun.
Pantauan di sejumlah pasar tradisional Jakarta pada Selasa, 3 Maret 2026, menunjukkan bahwa harga cabai rawit merah telah menyentuh Rp103.542 per kg per kilogram, level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Hari ini Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS Nasional) yang berada di bawah pengelolaan Bank Indonesia merilis data pemantauan harga harian hingga Rabu, 4 Maret 2026 pukul 08.30 WIB. Laporan tersebut memperlihatkan kenaikan signifikan pada sejumlah komoditas pangan utama menjelang Idul Fitri.
Salah satu komoditas yang paling menonjol adalah cabai rawit merah yang kini mencapai Rp74.750 per kilogram, menjadikannya komoditas dengan lonjakan harga paling tajam pekan ini. Harga ini disebut menjadi alarm bagi kestabilan pangan, terlebih ketika permintaan meningkat selama Ramadhan.
Sementara itu, bawang merah turut mencatatkan kenaikan dengan harga Rp44.050 per kg, diikuti bawang putih yang dibanderol Rp40.400 per kg di tingkat pengecer.
Baca Juga: Dampak Penutupan Selat Hormuz, Bahlil Putuskan Indonesia Impor Minyak dan LPG dari Amerika Serikat
Di sisi lain, laporan PIHPS juga menyajikan perkembangan harga beras yang menunjukkan pola fluktuatif. Beras kualitas bawah I dan II berada pada posisi Rp14.450 per kg. Untuk kategori menengah, kualitas medium I berada di kisaran Rp15.900 per kg, sedikit di atas medium II yang menyentuh Rp15.800 per kg.
Harga tertinggi terlihat pada beras kualitas super I yang mencapai Rp17.150 per kg, diikuti super II pada Rp16.700 per kg.
Anggota Komisi IV DPR sebelumnya telah menyoroti fenomena naiknya harga cabai. Dalam diskusi publik, persoalan distribusi dan potensi permainan stok disebut menjadi faktor yang perlu diwaspadai pemerintah.
Sementara itu, pernyataan terpisah dari Pramono Anung juga menyinggung penyebab naiknya harga cabai keriting khususnya di Jakarta yang disebut dipengaruhi rantai pasok dan cuaca.
Harga Komoditas Protein Hewani dan Minyak Goreng
Tidak hanya sektor hortikultura, komoditas protein hewani juga menunjukkan tren kenaikan. Daging sapi kualitas I tercatat Rp144.450 per kg, selisih hampir delapan ribu rupiah dari kualitas II yang berada pada Rp136.450 per kg.
Harga kebutuhan harian seperti minyak goreng bermerek I kini berada di level Rp22.650 per liter, sementara gula pasir premium mencapai Rp19.850 per kg.
Data lengkap harga pangan strategis:

Monitoring Harga di Tangerang
Tak hanya di Jakarta, kenaikan harga kebutuhan pokok juga terjadi di wilayah penyangga. Wakil Bupati Tangerang, Intan Nurul Hikmah, melakukan monitoring langsung terhadap harga dan stok pangan di Pasar Kelapa Dua, pada Selasa, 3 Maret 2026.
Baca Juga: THR PNS 2026 Golongan I, II, III, IV Diundur? Menkeu Akhirnya Buka Suara Tegaskan Jadwal Pencairan
Monitoring dilakukan bersama pejabat daerah untuk memastikan kesiapan pasokan pangan menjelang Idul Fitri.
“Saya bersama Asisten 2 dan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan meninjau langsung kondisi Pasar Kelapa Dua. Kami melihat ketersediaan dan harga kebutuhan pangan menjelang Idul Fitri,” kata Intan.
Berdasarkan hasil tinjauan tersebut, tercatat kenaikan signifikan pada beberapa komoditas penting seperti daging sapi, bawang merah, bawang putih, dan minyak goreng.
“Saat ini ditemukan kenaikan yang signifikan pada daging sapi dan bawang-bawangan. Cabai rawit juga melonjak. Minyak goreng stoknya terbatas,” jelasnya.
Keterbatasan stok minyak goreng menjadi perhatian khusus pemerintah daerah karena permintaan warga meningkat menjelang musim pengolahan makanan khas Lebaran.
Di tengah situasi harga pangan yang terus merangkak, mengimbau masyarakat untuk tetap bijak dalam mengatur belanja harian. Upaya pemerintah melalui operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah diharapkan dapat meringankan beban masyarakat, meski efektivitasnya masih perlu diperkuat di tingkat distribusi.
