Karena Tarawih termasuk ibadah sunnah, maka nilainya sangat besar di sisi Allah. Setiap rakaatnya mengandung pahala yang tidak sedikit.
Rasulullah SAW umumnya melaksanakan sebelas rakaat termasuk witir. Sementara pada masa Umar bin Khattab, kaum muslimin melaksanakan dua puluh rakaat secara berjamaah.
Perbedaan jumlah rakaat bukanlah inti utama. Yang terpenting adalah kekhusyukan, kualitas ibadah, serta konsistensi hingga akhir Ramadhan.
Baca Juga: 5 Tips Agar Mulut Tidak Bau Saat Berpuasa dan Tetap Segar Seharian
Peluang Meraih Lailatul Qadar
Sepuluh malam terakhir Ramadhan menjadi fase paling istimewa karena adanya Lailatul Qadar. Dalam Al-Qur'an Surah Al-Qadr ayat 3 disebutkan:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan.”
Seribu bulan setara lebih dari 83 tahun. Artinya, shalat Tarawih yang dilakukan bertepatan dengan malam tersebut dapat bernilai seperti ibadah selama puluhan tahun.
Karena itu, menghidupkan sepuluh malam terakhir dengan Tarawih dan ibadah lainnya menjadi strategi penting untuk memaksimalkan pahala Ramadhan.
Baca Juga: Amalan Sederhana di Ramadhan, Ustaz Khalid Basalamah: Pahalanya Bisa Berlipat Ganda
Manfaat Shalat Tarawih bagi Kesehatan Spiritual dan Fisik
Selain bernilai pahala besar, Tarawih juga memberikan dampak positif bagi jiwa dan tubuh.
Secara spiritual, lantunan ayat suci mampu menenangkan pikiran, meredakan stres, dan menghadirkan kedamaian batin.
Secara fisik, gerakan rukuk dan sujud membantu melancarkan peredaran darah serta menjaga fleksibilitas tubuh. Aktivitas ringan yang dilakukan rutin ini juga berkontribusi pada kualitas tidur yang lebih baik.
