Oleh: Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre)
Apa yang tak dibisniskan Bangsa Amerika? Rasanya, kok, tidak ada. Lewat protokol pasar bebas, perang pun bagian dari bisnis invasi ekonomi. Dalih boleh dikarang, dikampanyekan dan didiktekan, tetapi ujungnya: golek duit lan bathi.
Lewat sandi "operation epic fury" (USA) dan "roaring lion" (Israel), realisasi invasi ekonomi dan bisnis perang dilakukan. Iran target terkamannya. Lithium dan minyak adalah barang yang diperebutkan. Sesungguhnya itu adalah "praktik dari iman pada agama pasar bebas".
Kini, agama pasar bebas adalah angka dan fakta. Ia juga emosi, sensasi, fiksi dan ilusi. Nyata dan di depan mata. Menakutkan bagi elite, tetapi lelucon bagi orang waras. Bagaimana ini bukan lelucon, laporan media Kompas menyebut, AS diperkirakan telah menghabiskan biaya fantastis mencapai 779 juta dollar AS atau sekitar Rp13,1 triliun hanya dalam 24 jam pertama serangan ofensifnya terhadap Iran per 3 Maret 2026.
Sebenarnya, sistem pasar bebas itu sangat sederhana, tetapi berevolusi dan tarik ulur tumbuh sambil tidak peduli pada nasib, takdir dan uang sesama manusia. Sebaliknya, ia membuat kita semua "tidak stabil dan tidak nyaman".
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Dalam Penyembahan Ekonomi Global
Menghadapinya (baik karena serakah dan amoral) yang melakukan “penjajahan” lokal dalam: (1) Membuat kebijakan tidak berpihak pada rakyat; (2) Mendesain ketergantungan ekopol pada kekuatan asing; (3) Mentradisikan feodalisme dan elitisme kekuasaan yang mengabaikan kedaulatan rakyat; (4) Menghadirkan penyimpangan konstitusi demi kepentingan kelompok; (5) Memproduksi agama KKN dan menternak copet, maka cara melawannya adalah "reclaiming the state," melalui strategi konstitusional, intelektual, dan gerakan moral yang terstruktur.
Gerakan itu adalah: (1)Menghimpun kekuatan kontra ide dan kontra gagasan kolonial; (2) Merealisasikan ketegasan hukum; (3) Menghidupi kesadaran rakyat untuk jadi barisan dan pasukan; (4) Mewacanakan kepemimpinan alternatif yang kuat dan lebih bermartabat; (5) Mematrialisasikan pancasila.
Sejatinya, pasar bebas itu membuat kita kebanjiran agensi yang terlalu sibuk menilai orang lain hingga lupa melihat diri sendiri; tidak sadar bahwa dirinya bukan siapa-siapa; luka saat yang lain ceria; bahagia saat yang lain paria.
Mencandranya, Laksma Salim (2026) berkata, "akibat iman pada pasar bebas, negara kita kini tidak punya haluan (GBHN), sehingga tiap-tiap dari kita sendiri maupun institusi negara, bertahan hidup dengan caranya sendiri. Sungguh, negeri ini tidak diciptakan untuk memusuhi negara lain akan tetapi bunuh-bunuhan dengan teman sendiri".
