Diana menambahkan, bagi para mitra penting untuk mengikuti perkembangan teknologi, termasuk kini sudah masuk ke era kecerdasan buatan (AI) yang bisa digunakan sebagai pendampingan mitra.
"Langkah ini diambil bukan untuk menggantikan peran manusia, melainkan untuk menyelesaikan hambatan teknis yang paling sering dikeluhkan mitra, yakni pemasaran digital," kata dia.
Banyak pemilik outlet yang paham cara menggoreng tahu yang enak, tapi seringkali buta soal cara menjalankan iklan di media sosial. Jadi, bantuan dari teknologi sangat diperlukan dalam pengembangan bisnis.
"Untuk itulah peran asisten digital seperti Nadira (untuk optimasi iklan Meta) atau Savina (untuk strategi operasional) menjadi krusial. Sistem ini menjadi semacam ‘kompas digital’ agar produk mitra tidak hanya enak di lidah, tapi juga terlihat di layar ponsel calon pembeli,” ucapnya.
“Langkah ini sangat realistis. Di era sekarang, outlet yang sepi seringkali bukan karena produknya buruk, melainkan karena kalah visibilitas. Penjualan hari ini ditentukan oleh seberapa kuat sebuah brand muncul di lini masa konsumen," ujarnya.
Baca Juga: Waspada! 5 Hal Ini Bisa Hanguskan Pahala Puasa Ramadhan
Sementara itu, dari sisi produk Kuch2Hotahu terus melakukan penyesuaian tanpa meninggalkan originalitas sebagai identitas aslinya.
"Ada lini tahu celup dengan saus Korean Spicy, Mentaiko, hingga Smoky BBQ diperkenalkan sebagai jawaban atas pergeseran selera konsumen yang kini mencari rasa lebih kompleks dan tampilan yang lebih menarik," kata Diana.
Menurut Diana perubahan ini dilakukan secara bertahap, bukan lompatan ekstrem yang membingungkan pelanggan lama.
"Dengan kombinasi pengalaman lapangan selama lebih dari satu dekade dan adaptasi teknologi. PT Indoboga Makmur Pratama membuktikan bahwa bisnis tahu goreng pun bisa tetap relevan jika dikelola dengan visi yang jauh ke depan," ungkapnya. (ang)
