POSKOTA.CO.ID - Perang Badar bukan hanya sekedar peristiwa militer saja, melainkan momentum spiritual dan politik yang mengubah arah sejarah Islam.
Perang ini terjadi pada 17 Ramadhan tahun 2 Hijriah atau sekitar 624 M yang mempertemukan 313 kaum Muslimin melawan lebih dari 1.000 pasukan Quraisy.
Perang ini berlangsung di kawasan Badar, sekitar 130 kilometer dari Kota Madinah, tepat di jalur strategis perdagangan antara Makkah dan Syam.
Nama “Badar” sendiri merujuk pada sumber mata air di wilayah tersebut, yang kemudian menjadi titik kunci strategi pertempuran.
Sejarah Perang Badar
Dilansir dari laman resmi jabar.nu.or.id. Perang Badar berawal saat Rasulullah Saw. mengutus beberapa sahabat untuk menghadang rombongan kafilah dagang Quraisy yang kembali dari Syam menuju Makkah dengan membawa harta berlimpah.
Langkah tersebut bukan untuk memulai peperangan, melainkan melindungi kepentingan kaum Muslimin yang sebelumnya mengalami tekanan dan perampasan harta oleh Quraisy.
Namun, kafilah yang dipimpin Abu Sufyan berhasil lolos setelah mengirim utusan meminta bantuan ke Quraisy. Kaum Quraisy kemudian mengerahkan sekitar 1.000 prajurit, 600 di antaranya mengenakan baju besi, 100 pasukan berkuda, serta 700 ekor unta.
Mereka bahkan membawa penyanyi yang menabuh rebana dan melantunkan lagu-lagu hinaan terhadap pasukan Muslim.
Di pihak lain, jumlah kaum Muslimin hanya sekitar 313 atau 314 orang, sebagian besar dari kalangan Anshar. Mereka memiliki sekitar 70 ekor unta dan dua hingga tiga ekor kuda.
Karena keterbatasan tunggangan, Rasulullah Saw. menggilir para sahabat untuk menaiki unta secara bergantian. Sebelum memasuki medan perang, Nabi Muhammad Saw. meminta pendapat para sahabat, terutama kaum Anshar, terkait kesiapan bertempur. Kaum Muhajirin menyampaikan dukungan penuh dengan semangat dan keyakinan yang kuat.
