Dalam struktur tersebut, sebagian kewenangan strategis termasuk respons militer dan peluncuran rudal disebut telah didelegasikan hingga level perwira menengah.
Artinya, wafatnya pemimpin tertinggi tidak otomatis menghentikan aktivitas militer. Sistem ini membuat respons pertahanan Iran dapat tetap berjalan secara cepat bahkan dalam situasi krisis kepemimpinan.
Dampak Langsung Justru Terasa di Pasar Energi Dunia
Dampak paling cepat dari wafatnya pemimpin tertinggi Iran kemungkinan bukan terjadi di Teheran, melainkan di pasar global.
Ketidakpastian komando militer dapat membuat perusahaan energi menahan distribusi minyak melalui Selat Hormuz, jalur laut yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia setiap hari.
Gangguan di jalur strategis tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi global, meningkatkan inflasi, dan memperbesar tekanan ekonomi di banyak negara.
Ketidakjelasan siapa yang memiliki otoritas penuh untuk menghentikan operasi militer juga meningkatkan risiko salah tafsir antarnegara, yang dapat mempercepat eskalasi konflik.
Baca Juga: Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei Picu Deklarasi 40 Hari Masa Berkabung di Iran
Dunia Menghadapi Risiko Lebih Besar dari Iran
Secara struktural, Iran kemungkinan besar tetap bertahan karena sistem negara telah dirancang menghadapi krisis kepemimpinan. Namun ancaman terbesar justru berada pada dampak global yang muncul selama masa transisi kekuasaan.
Dalam kondisi di mana operasi militer dapat berjalan lebih cepat daripada proses politik, dunia menghadapi periode ketidakpastian yang berpotensi mengguncang stabilitas energi, keamanan regional, hingga ekonomi internasional.
Dengan adanya kabar Ali Khamenei meninggal ini mungkin tidak langsung meruntuhkan Iran, tetapi konsekuensinya bisa terasa jauh melampaui batas negara tersebut.
